BAB
I
Penyuluhan kesehatan adalah
kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti,tetapi juga
mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.
Penyuluhan kesehatan dimulai dari masyarakat dalam keadaan seperti apa adanya
yaitu pandangan mereka selama ini terhadap masalah kesehatan (Efendy, 2006).
BAB III
Pre-test intervensi post-test
BAB IV
Sampel penelitian sebagian/wakil
populasi yang diteliti (Arikunto, 2002)
jika jumlah subjeknya (≥ 100) maka lebih baik semua subjeknya
diteliti sebagai penelitian merupakan
penelitian populasi karena sampelnya meliputi semua subjek yang terdapat dalam
populasi (Arikunto, 2002). Jenis sampel yang diambil pada penelitian ini adalah
dengan purposive sampling adalah
teknik penempatan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi yang
dikehendaki sebagai sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang
telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003).
BAB V
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan suatu anugerah yang diberikan Allah kepada
kita, dengan kesehatan kita bisa
menikmati hidup lebih indah dan nyaman, maka dari itu kita harus menjaga
kesehatan dengan sebaik-baiknya. Peran bidang kesehatan adalah bagaimana
menciptakan manusia Indonesia yang sehat, fisik dan mental. Oleh karena itu,
peran bidang kesehatan harus lebih dititik beratkan pada semua upaya, untuk
menciptakan manusia sehat sejak usia dini (World Health Organization/ WHO,
2009).
Pembangunan kesehatan merupakan bagian
terpadu dari pembangunan nasional yang antara lain mempunyai tujuan untuk
mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin. Salah
satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang
tinggi, oleh karena itu maka pembangunan manusia seutuhnya harus mencakup berbagai
aspek, yaitu aspek jasmani dan kejiwaan, disamping aspek spritual dan sosial,
termasuk kepribadian yang ditunjukan untuk menunjukan manusia sehat, cerdas dan
produktif (Depkes RI, 2004).
1
|
Menurut survei (World Health
Organization/ WHO) Rokok merupakan benda beracun yang memberi efek santai
dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang
kecil bentuknya itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok
maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok, (World
Health Organization/ WHO) pun mengingatkan bahwa rokok merupakan salah satu
penyebab kematian yang paling berbahaya di dunia, (World Health Organization/
WHO) bahkan memperkirakan, tiap tahun ada 4 juta orang meninggal akibat
penyakit karena merokok. Sebagian besar dari mereka meninggal di bawah usia 65
tahun. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner,
penyakit pembuluh periferal, dan gangguan paru-paru seperti bronkhitis kronis,
emfisema, asma, dan kanker paru (World Health Organization/ WHO,
2004).
Rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular seperti jantung,
gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker pada mulut. Di samping
itu, rokok juga menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil
diluar kandungan, pertumbuhan janin (fisik dan IQ) yang melambat, kejang pada
kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal.
Meningkatnya jumlah perokok di kalangan anak-anak dan kaum muda Indonesia
karena dipengaruhi iklan rokok, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar
yang bisa dilihat oleh masyarakat luas ( Depkes RI,
2010 ).
Merokok sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum dan meluas di masyarakat.
Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan banyak
orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan
jelas. Banyak penelitian membuktikan kebiasaan merokok meningkatkan risiko
timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh
darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker osefagus,
bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi serta gangguan kehamilan dan
cacat pada janin (Sundoro, 2005).
Dari data WHO di peroleh, Indonesia
sebagai negara dengan konsumsi rokok terbesar nomor 3 setelah China dan India
dan diatas Rusia dan Amerika Serikat. Padahal dari jumlah penduduk, Indonesia
berada di posisi ke-4 yakni setelah China, India dan Amerika Serikat. Berbeda
dengan jumlah perokok Amerika yang cenderung menurun, jumlah perokok Indonesia
justru bertambah dalam 9 tahun terakhir. Badan Kesehatan Dunia (World Health
Organization/ WHO) merilis data lebih dari 50% rumah tangga di Indonesia
memiliki satu orang perokok di rumahnya, sehingga diperkirakan 50% masyarakat di Indonesia terpapar asap
rokok (Depkes
RI, 2010).
Dari data dinas kesehatan provinsi
Sumatera Selatan di dapat bahwa anak sekolah di Sumatera Selatan yang sudah
pernah merokok. Konsumsi rokok Indonesia
setiap tahun mencapai 199 miliar batang. Ironisnya, 60% dari perokok Indonesia,
kira-kira 84 juta orang, adalah masyarakat kelas ekonomi bawah (Dinkes
Provinsi, 2010).
Perilaku masyarakat kota Palembang terhadap pengetahuan dan sikap tentang
merokok belum optimal dilihat dari
kenyataan di dalam lingkungannya. Merokok merupakan kegiatan yang masih
banyak dilakukan oleh banyak orang, walaupun sering ditulis di surat-surat
kabar, majalah dan media masa lain yang menyatakan bahayanya merokok. Bagi
pecandunya, mereka dengan bangga menghisap rokok di tempat-tempat umum, kantor,
rumah, jalan-jalan, dan sebagainya, bahwa semakin tinggi jumlah pelajar yang
memiliki kebiasaan merokok. Penyuluhan tentang merokok adalah hal yang sangat
penting untuk membangkitkan kesadaran tentang bahaya merokok dengan cara
mengikut sertakan media elektronik dan non elektronik tentang bahaya merokok,
kecanduan rokok, dampak sosial dan ekonomi akibat rokok pada publik terutama
anak-anak, remaja serta usia produktif dewasa ini di Indonesia. Kegiatan
merokok seringkali dilakukan individu dimulai di sekolah menengah pertama (Profil Dinkes Palembang, 2011).
Selain itu anak usia sekolah menengah pertama merupakan usia yang sangat
rentan untuk terpengaruh perilaku menyimpang termasuk kebiasaan merokok di SMP
Negeri 13 adalah salah satu sekolah yang terletak di daerah yang lingkungan
yang kurang kondusif karena terletak didekat
pemukiman padat dan daerah yang sangat ramai. Dari data TU di sekolah didapat siswa SMP Negeri 13
berjumlah 993 siswa, dengan kelas VII berjumlah 400 siswa 183 laki-laki dan 217
perempuan, kelas VIII berjumlah 319 siswa 152 laki-laki dan 165 perempuan
dan kelas IX berjumlah 129 siswa laki-laki dan perempuan 147 siswa (Data TU
SMPN 13, 2012).
Berdasarkan hasil pengamatan kepala sekolah SMP Negeri 13 selama 1 tahun
terakhir dtemukan beberapa siswanya yang kedapatan merokok di lingkungan
sekolah dan telah diberikan sanksi tapi masih ada juga siswa yang kedapatan
merokok di lingkungan sekolah, sehingga
sekolah menerapkan slogan “Kawasan Tanpa
Asap Rokok” dengan harapkan tidak ada lagi siswa yang merokok di kawasan
sekolah SMP Negeri 13 Palembang (Kepsek,
2012).
Berdasarkan pernyataan diatas, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh penyuluhan
tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun
2012”.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan diatas peneliti
tertarik melakukan penelitian tentang pengaruh penyuluhan kesehatan tentang
merokok terhadap pada remaja usia 12-15
tahun di SMP Negeri 13 Palembang.
1.3
Pertanyaan Penelitian
Adakah pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok pada remaja usia
12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang ?
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1. Tujuan Umum
Diketahui pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok pada remaja usia
12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang
1.4.2. Tujuan Khusus
1. Ada pengaruh
tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan
tentang merokok pada siswa SMP Negeri 13 Palembang.
2.Ada pengaruh
sikap siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan tentang merokok
pada siswa SMP Negeri 13 Palembang.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1.
Bagi Peneliti
Sebagai pengetahuan dan
pengalaman dalam melakukan penelitian sesuai ilmu yang di dapat selama
mengikuti pendidikan akademi di STIK Bina Husada serta sebagai sumber informasi tentang merokok pada remaj terhadap
pengetahuan dan sikap siswa di SMP Negeri 13 Palembang.
1.5.2
Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian
ini dapat dijadikan sumber informasi untuk peneliti selanjutnya, serta dapat
menambah wawasan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.
1.5.3.
Bagi Tempat Penelitian
Dapat dijadikan
masukan informasi sebagai bahan untuk perencanaan kerja selanjutnya khususnya
bahaya merokok agar terciptanya peningkatan kesehatan pada siswa SMP Negeri 13
Palembang.
1.6. Ruang Lingkup Penelitian
Pada penelitian ini termasuk area mata kuliah komunitas. Sasaran obyek
adalah siswa yang pernah merokok. Penelitian
ini adalah penelitian kuantitatif yang dilakukan untuk mengetahui pengetahuan
dan sikap siswa terhadap bahaya merokok setelah dan sebelum dilakukan penyuluhan
(pre-test dan post-test) di SMP Negeri 13 Palembang. Sasaran
penelitian ini dilaksanakan bulan April
tahun 2012.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyuluhan Kesehatan
2.1.1
Definisi
Penyuluhan
Penyuluhan
kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan
pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan
mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya
dengan kesehatan (WHO, 2009).
Penyuluhan kesehatan merokok di
sekolah merupakan kegiatan pendidikan bagi masyarakat sekolah dengan cara
menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan yang bertujuan mengubah prilaku mereka
dari yang kurang mengetahui tentang bahaya merokok menjadi tahu tentang bahaya
merokok. Melalui kegiatan ini dihrapkan mereka menjadi tahu, mau dan mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi,
baik secara sendiri maupun bersama guna terus meningkatkan pengetahuan tentang
bahaya merokok untuk kesehatan tubuh sehingga mampu mengurangi prilaku merokok di masyarakat (Astuti, 2006).
8
|
8
|
2.1.2
Tujuan
Penyuluhan Kesehatan Merokok
Tujuan pendidikan (penyuluhan) merokok di sekolah adalah (Effendy,
1998). :
1. Meningkatkan pengertian dan kesadaran masyarakat
tentang bahaya dari merokok.
2. Menghilangkan atau sedikit mengurangi penyakit
yang disebabkan oleh merokok.
2.1.3 Metode Penyuluhan
Metode yang dapat dipergunakan
dalam yang memberikan penyuluhan
kesehatan ada dalam (Notoatmodjo, 2002) :
1) Metode Ceramah
Adalah suatu cara dalam menerangkan
dan menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok
sasaran sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan.
2) Metode diskusi kelompok
Adalah pembicaraan yang direncanakan
dan telah dipersiapkan tentang suatu topik pembicaraan diantara 5-20 peserta
(sasaran) dengan seseorang pemimpin diskusi yang telah ditunjuk.
3) Metode Curah pendapat
Adalah suatu bentuk pemecahan masalah
dimana setiap anggota mengusulkan semua kemungkinan pemecahan yang terpikirkan
pleh masing-masing peserta dan evaluasi atas pendapat-pendapat tadi dilakukan
kemudian.
4) Metode Panel
Adalah pembicaraan yang telah direncanakan
di depan pengunjung atau peserta tentang sebuah topik, diperlukan 3 orang atau
lebih panelis dengan seseorang pemimpin.
5) Metode Bermain Peran
Adalah memerankan sebuah situasi dalam
kehidupan manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atau
lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh kelompok.
6) Metode Demonstrasi
Adalah suatu cara untuk menunjukan
pengertian, ide dan prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan
teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan, adegan
dengan menggunakan alat peraga. Metode ini digunakan terhadap kelompok yang
terlalu besar jumlahnya.
7) Metode Simposium
Adalah serangkaian cermah yang
diberikan oleh 2-5 orang dengan topik yang berlebihan tetapi saling berhubungan
erat.
8) Metode Seminar adalah suatu cara dimana sekelompok
orang berkumpul untuk membahas suatu masalah dibawah bimbingan seseorang ahli
yang menguasai bidangnya.
2.1.4
Langkah-langkah
Merencanakan Penyuluhan
Langkah-langkah dalam perencanaan dalam (Machfoedz, 2007) adalah :
a. Mengenal masalah, masyarakat, dan wilayah
b. Menentukan prioritas
c. Menentukan sasaran penyuluhan
d. Menentukan tujan penyuluahan
e. Menentukan isi penyuluhan
f. Metode penyuluhan
g. Sasaran penyuluhan
h. Menyusun rencana penilaianya
i. Menyusun rencana kerja/rencana pelaksanaannya.
2.2 Merokok
2.2.1
Definisi
Merokok
Merokok adalah kegiatan menghisap
gulungan kertas yang berisi daun-daun tembakau (WHO, 2009).
2.2.2
Defenisi
Rokok
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran
panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter
sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan
membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya (WHO,2009).
2.2.2
Sejarah Rokok
Kata tembakau berasal
dari bahasa spanyol tabaca. Tembakau ini pertama
kali diperkenalkan
oleh bangsa Indian kepada bangsa kulit putih melalui Christopher Colombus sebagai
tanda persahabatan. Lalu Christopher Columbus membawa pulang sejumlah
biji tembakau ke Eropa dimana tembakau diberi nama latin Nicotina dan
selanjutnya diperkenalkan tembakau ke prancis. Pada tahun 1600-an orang-orang
Spanyol dan beberapa orang Eropa mulai merokok linting. Awal mula perkenalan
dunia pada tembakau dan kebiasaan merokok oleh para pelaut spanyol dibawah
pimpinan Chistopher Columbus (1451-1506) pada tahun 1492. setelah melakukan
serangkaian pendaratan di berbagai pulau di benua itu, pada 2 November 1492
rombongan Columbus mendarat dipulau Waitling dan mereka melihat sebuah perahu
lesung orang Indian yang berisi daun kering yang dikenal tembakau.
Kontroversi
pemakaian tembakau dimuali tahun 1500-an dimana diumumkan sebaiknya pengguna
tembakau untuk keperluan pengobatan saja. Pada sekitar tahun 1960-an ilmuan
sepakat bahwa rokok dapat meningkatkan resiko kanker paru, penyebab jantung,
dan banyak penyakit lainnya. Secara global, konsumsi rokok membunuh satu orang
setiap 10 detik. WHO memperkirakan pada tahun 2020 penyakit berkaitan dengan
rokok akan menjadi masalah kesehatan utama di banyak negara. Kebiasaan merokok
dianggap menjadi enty point pada penyalahgunaan narkotik dan bahan berbahaya
lainnya. Sejak abad XVII, Penanaman tembakau ini mulai dikembangkan di koloni
Inggris. Para imigran Inggris membawa bibit-bibit tembakau tersebut dari
Amerika Serikat dan ditanam di perkebunan-perkebunan Maryland di Virginia, USA.
Pada waktu berkobarnya Revolusi Amerika, ekspor tembakau ini mencapai 100 juta
Pond Sterling. Pada abad yang sama, penanaman dan pemakaian tembakau ini mulai
menyebar ke sulur dunia diantaranya : India, Persia, Filipina, Indonesia, dll (Elizabeth,
2010).
2.3
Kandungan Rokok
Ada sekitar 4.000 zat kimia dan racun mematikan yang
terdapat di dalam satu batang rokok yang diantaranya adalah Nikotin, Tar,
Amonia, Formic Acid, hydrogen Cyanide, Phenol, Methanol, dan zat-zat
beracun lainnya.
a. Nikotin
Nikotin
merupakan zat kimia parangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah.
Selain itu, nikotin dapat membuat pemakainya kecanduan. Nikotin merupakan zat
adiktif dalam tembakau. Nikotin dengan cepat masuk ke otak begitu anda merokok.
Nikotin adalah racun. 30mg nikotin menyebabkam kematian, hanya sebagian yang
diabsorbsi oleh perokok. Setiap rokok rata-rata mengandung 0,1-1,2mg nikotin.
Nikotinlah
yang menyebabkan ketergantungan. Nikotin menstimulasi otak untuk terus menambah
jumlah nikotin yang dibutuhkan. Semakin lama, nikotin dapat melumpuhkan otak
dan rasa, serta meningkatkan adrenalin, yang menyebabkan jantung diberi
peringatan atas reaksi hormonal yang membuatnya berdebar lebih cepat dan
bekerja lebih keras. Artinya jantung membutuhkan lebih banyak oksigen agar
dapat terus memompa. Nikotin juga menyebabkan pembekuan darah lebih cepat dan
meningkatkan resiko serangan jantung. 25% nikotin yang ada dalam sebatang rokok
yang terhisap pada saat kita merokok akan masuk kedalam peredaran darah dan hanya
perlu waktu 15 detik saja untuk masuk ke otak. Akibatnya adalah kekurangan
oksigen di seluruh tubuh dan juga mengalami penyempitan pembuluh darah yang
bisa menyebabkan stroke. Kadar nikotin 4-6 mg yang diisap oleh orang dewasa
setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan.
Nikotin
mempunyai efek mengurangi nafsu makan dengan merintangi kontraksi lambung dan
menyebabkan aliran darah akan lebih cepat dan tekanan darah akan naik. Merokok bisa menekan nafsu makan, bahkan bisa
membantu mereka yang ingin menurunkan berat badan tanpa bantuan obat-obat
pelangsing, hal ini bisa jadi karena keasyikkan kita merokok, yang membuat kita
malas manambah asupan makanan untuk tubuh kita.
b.
Tar
Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap
rokok dan bersifat karsinogen. Rokok mengandung zat berbahaya, tar yang merusak
sel paru-paru dan menyebabkan sakit kanker. Pada saat rokok dihisap, tar masuk
ke dalam rongga mulut sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan
membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan
paru-paru. Pengedapan ini bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara
kadar tar dalam rokok berkisar 24-45 mg. zat ini mampu menimbulkan sel kanker.
Ampas dari asap rokok yang terhisap akan mampu menempel di paru-paru.
Lama-kelamaan 20-30 tahun kemudian zat ini akan mengubah sel epitel bronkus
normal di paru-paru menjadi sel kanker ganas. Tar digunakan untuk melapisi
jalan atau aspal.
c. Ammonia
Ammonia adalah gas yang tidak berwarna yang berisi nitrogen dan
hydrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Ammonia ini sangat
gampang memasuki sel-sel tubuh. Begitu kerasnya racun yang terdapat pada
ammonia itu, sehingga kalau disuntikkan pada peredaran darah akan mengakibatkan
seseorang itu pingsan atau koma, Dan salah satu bahan untuk pembersih lantai.
d. Formic Acid
Formic
Acid adalah sejenis cairan tidak bewarna yang bergerak bebas dan dapat membuat
lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan
seseorang merasa seperti digigit semut. Bertambahnya Acid apapun di peredaran
darah akan menambah cepatnya pernapasan seseorang.
e. Hydrogen Cyanid
Hydrogen
Cyanid adalah sejenis gas yang tidak bewarna, tidak berbau dan tidak mempunyai
rasa. Zat ini merupakan zat paling ringan serta gampang terbakar. Zat ini
sangat efisein untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang
mengandung racun yang sangat berbahaya.
f. Methanol
Methanol adalah sejenis cairan
ringan yang gampang manguap, dan mudah terbakar. Cairan ini dapat diperoleh
dengan penyulingan bahan kayu atau dari sintesis karbon monoksida dan hydrogen.
Meminum atau menghisap
methanol dapat mengakibatkan kebutaan bahkan kematian.
g. Zat berbahaya lainnya
Naftalen (kapur barus), Butan (bahan untuk korek api), Cadnium (bahan aki
mobil), Vinil Klorida (bahan Plastik), DDT (bahan racun serangga), Arsenik
(racun semut putih), Aseton ( bahan penghapus cat), Benzen, Radon, Toulen.
Semua zat ini ada dalam setiap satu batang rokok yang dihisap ( Elizabeth,
2010).
`
Gambar 2.3 Kandungan Rokok
2.4 Mengapa Merokok ?
Ketika kita melakukan sesuatu tentu ada sebabnya,
entah itu karena ketertarikan maupun suatu kebiasaan. Demikian halnya dengan
merokok. Merokok juga merupakan suatu kebiasaan yang tidak hanya dilakukan
begitu saja. Meskipun perlahan mengalir seperti air, namun selalu saja ada
alasan untuk merokok. Tidak hanya bagi mereka yang sebelumnya sudah merokok,
kemudian merokok kembali, ataupun bagi mereka yang sebelumnya belum pernah
mencoba merokok pun menjadi tertarik untuk mencobanya. Menurut Sarafino,(dalam
Elizabeth, 2010) faktor-faktor yang menpengaruhi perilaku merokok ada tiga,
yaitu faktor sosial, psikologi, dan genetik ( Elizabeth, 2010).
2.4.1 Faktor sosial
Manusia adalah makhluk sosial.
Karena itu ada saling ketergantungan atau tidak bisa hidup sendiri. Sebagai
makhluk sosial, manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan
orang lain atau memiliki dorongan sosial. Dengan adanya dorongan sosial
tersebut, manusia akan mencari orang untuk melakukan interaksi. Faktor terbesar
dari kebiasaan merokok adalah faktor sosial atau lingkungan. Terkait itu, kita
tentu telah mengetahui bahwa karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan
sekitar, baik keluarga, tetangga, bahkan sesama teman. Bersosialisasi merupakan
cara utama untuk mencari jati diri mereka. Hal ini sebagai suatu proses yang
terjadi pada remaja untuk mencari jati diri dan belajar menjalani hidup. Namun sangat disayangkan karena tidak hanya
kebiasaan-kebiasaan yang baik saja yang ditiru, melainkan juga
kebiasaan-kebiasaan buruk, termasuk kebiasaan merokok. Berbagai fakta mengungkapkan bahwa
semakin banyak remaja merokok, semakin
besar juga kemungkinan teman-temannya sebagai perokok. Selain itu, lingkungan
keluarga juga mempengaruhi seseorang untuk berprilaku merokok ( Elizabeth,
2010).
2.4.2 Faktor Psikologis
Ada beberapa alasan psikologis yang
menyebabkan seseorang merokok, yakni
demi relaksasi atau ketenangan, serta mengurangi kecemasan atau ketegangan.
Pada kebanyakan perokok, ikatan psikologis dengan rokok dikarenakan adanya kebutuhan
untuk mengatasi diri sendiri secara mudah dan efektif. Mengenali alasan atau penyebab merokok, seperti :
1) Gejala Ketagihan
a. Adanya rasa ingin merokok yang menggebu
b. Merasa tidak bisa hidup selama setengah
hari tanpa rokok
c. Merasa tidak tahan bila kehabisan rokok
d. Gelisah, susah konsentrasi, sulit tidur,
lelah, dan pusing
2) Kebutuhan Mental
a. Merokok merupakan hal yang paling nikmat
dalam kehidupan
b. Merasa lebih rileks dengan merokok
c. Merasa lebih berkonsentrasi sewaktu
bekerja dengan merokok
3) Kebiasaan
a. Merasa kehilangan benda yang bisa
dimainkan ditangan
b. Kebiasaan merokok sesudah makan
c. Menikmati rokok sambil minum kopi
2.4.3 Faktor Genetik
Dapat menjadikan seseorang
tergantung pada rokok. Faktor genetik atau biologis ini dipengaruhi juga oleh
faktor-faktor yang lain, seperti faktor sosial dan psikologi. Selain itu,
faktor lain yang menyebabkan seseorang merokok adalah pengauh iklan. Melihat
iklan dimedia massa dan elektronik yang membuat remaja seringkali terpicu untuk
meniru perilaku dalam iklan tersebut ( Elizabeth, 2010).
2.5
Bahaya Rokok bagi Kesehatan
Semua zat ini mengakibatkan gangguan
jantung dan sirkulasi darah, kanker paru-paru dan organ lainnya, bronkhitis
kronik. Efek jangka pendek adalah meningkatnya debar jantung, menurunnya suhu
kulit, dan Rongga mulut sangat mudah
terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Tejadinya perubahan dalam rongga
mulut sangat masuk diakal karena mulut merupakan awal terjadinya penyerapan
zat-zat hasil pembakaran rokok.
Temperatur rokok pada bibir adalah
30 derajat C, sedangkan ujung rokok yang terbakar bersuhu 900 derajat C. Asap panas yang berhembus terus menerus ke
dalam rongga mulut merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran
darah dan mengurangi pengeluaran ludah. Akibatnya rongga mulut menjadi kering
dan lebih an-aerob (suasana bebas zat asam) sehingga memberikan lingkungan yang
sesuai untuk tumbuhnya bakteri an-aerob dalam plak.
Dengan sendirinya perokok berisiko
lebih besar terinfeksi bakteri penyebab penyakit jaringan pendukung gigi
dibandingkan mereka yang tidak merokok. Meningkatnya
kecepatan nafas, juga dapat menyebabkan
diare dan muntah. Meski secara nyata merokok meningkatkan debar jantung, para
perokok mengatakan mereka merasa santai. Efek jangka panjang menyerang sistem
bronkhopulmoner dan kardiovaskular. Kebiasaan merokok telah terbukti memiliki
kaitan dengan penyakit dari berbagai alat tubuh manusia. Akibatnya merokok yang
mungkin sudah sangat diketahui adalah merusak paru-paru, kanker, bronkhitis dan
penyakit-penyaikit lainnya, dibawah ini akan di paparkan lebih lanjut beberapa
pengaruh rokok bagi kesehatan
( Elizabeth, 2010).
a. Pengaruh Rokok Pada Paru-paru
Merokok dapat menyebabkan perubahan
struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas
besar, sel mukosa membesar (hipertofi) dan kelenjar mucus bertambah banyak.
Pada saluran napas kecil, terjadi peningkatan terjadi radang ringan hingga
penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan
paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli.
Akibat perubahan anatomi saluran napas,
pada perokok akan timbul perubahan pada
fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya. Penelitian di Indonesia maupun didunia telah membuktikan bahwa sebagian
besar (80%) kanker paru-paru disebabkan oleh kebiasaan merokok. Dan inilah salah satu jenis kanker yang
paling sering ditemukan pada laki-laki. Faktor yang mempengaruhi terjadinya
kanker paru-paru pada perokok adalah jumlah batang rokok yang dihisap setiap
harinya, usia perokok ketika mulai terbiasa merokok, lamanya kebiasaan merokok,
intensitas menghisap rokok dan kadar tar dalam rokok.
Menurut hasil penelitian mereka yang mulai
merokok pada usia yang kurang dari 15 tahun mempunyai resiko menderita kanker
paru 20 kali lebih tinggi dari pada yang tidak merokok. Dan kemungkinan terjadi
kanker paru adalah setelah orang kecanduan rokok selama 15 sampai 20 tahun
keatas, perokok aktif maupun perokok pasif.
b. Pengaruh Rokok Terhadap Jantung
Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis
dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan
ketagiahan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan andrenalin, meningkatkan
frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta
menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak
dan banyak bagian tubuh lainnya.
Karbon monoksida menurunkan langsung
persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan
tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen dan mempercepat aterosklerosis ( pengapuran/penebalan
dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan kapasitas latihan
fisik, mengikat darah, sehingga mempermudah pengumpalan darah.
c. Pengaruh Rokok Pada Otak
Penelitian menunjukkan orang dengan
kebiasaan merokok atau cerutu, menderita 10% kemerosotan efisiensi mental
setelah merokok dan ini menimbulkan sikap ragu-ragu, tidak tahu mengambil
keputusan dan kurang pengendalian diri, sehingga mengurangi waktu dan prestasi
kerja.
Merokok dapat mempengaruhi dan melemahnya
saraf otak. Otak tersusun dari jenis jaringan saraf yang sama dengan mata.
Dengan demikian, jika nikotin dapat
melumpuhkan saraf penglihatan ia dapat pula berpengaruh pada otak.
d. Pengaruh Rokok Pada Telinga, Hidung, dan
Tenggorokan
Asap rokok menimbulkan iritasi pada
saluruan eustasius, yaitu saluran yang menghubungkan hidung, telinga dan
tenggorokkan. Merokok akan mengakibatkan rangsangan pada tenggorokkan, karena
zat-zat akan menyerang selaput-selaput halus pada saluran parnapasan. Zat ini
akan dipindahkan kedalam cabang-cabang tenggorokan dan paru-paru dengan
perantara asap, dan sesudah itu akan disimpan pada selaput lendir
pembuluh-pembuluh ini sehingga menyebabkan hambatan pada saluran udara dalam
paru-paru dan menyebabkan orang lebih sukar bernapas.
e. Pengaruh Rokok Pada Kulit
Nikotin dapat mengerutkan pembuluh darah
di bagian wajah dan leher. Jika pembuluh darah mengerut, ini berarti jaringan
kulit tersebut mengalami kekurangan zat makan, sehingga warnanya akan pucat. Biasanya proses ini akan diikuti oleh
keriput sekitar wajah.
f. Pengaruh Rokok Pada Kesehatan Perempuan
Pada wanita hamil merokok dapat
menyebabkan gangguan pada kehamilan, baik kesehatan ibu maupun kondisi perkembangan
janin. Merokok juga meninggkatkan resiko terjadinya abortus, lahir prematur,
berat badan lahir rendah, gangguan pernapasan janin, cacat bawaan (Congenital),
dan janin yang kecil akibat kekurangan oksigen (hipoksia). Akibatnya
perkembangan organ-organ janin terganggu baik fisik maupun mental, sehingga
dapat terjadi cacat congenital, perkembangan organ yang tidak sempurna.
Untuk ibu-ibu, merokok juga dapat
menyebabkan gangguan kesehatan secara umum, mulai hipertensi, keracunan
kehamilan (eklamsia) yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan kematian. Selain
itu juga dapat menyebabkan pendarahan pada saat kehamilan dan kelahiran ( Depkes RI, 2010 ).
2.6 Dampak
Merokok Terhadap Kemungkinan Terjadinya Penyakit
Adapun dampak
yang ditimbulkan oleh rokok antara lain :
1. Dampak Rokok Pada Diri Perokok Pasif
Perokok pasif mempunyai
resiko yang sama dengan perokok aktif karena perokok pasif juga menghirup
kandungan karsinogen ( zat yang memudahkan timbulnya kanker yang ada dalam asap
rokok), sebagaimana yang dihirup oleh perokok aktif.
Penelitian dalam 20
tahun terakhir menunjukkan bahwa menghirup asap rokok, orang lain sangat
membahayakan. Asap rokok menimbulkan bau yang tidak sedap, mencekik,
mengiritasi hidung dan mata. Bayi yang belum lahir berada dalam resiko,
anak-anak yang orang tuanya merokok, dan orang dewasa yang bukan perokok.
Meskipun resiko orang bukan perokok
tidak sebesar perokok, tetapi jenis penyakit dan kelainan yang timbul ternyata
hampir sama, yaitu antara lain kanker, penyakit jantung dan stroke, dan
gangguan pernapasan seperti asma, mudah meng alami alergi, dan gampang terkena
TBC paru-paru ( Ellizabet, 2010).
2. Dampak
Rokok Pada Diri Perokok Aktif
a.
Rambut bau dan kotor
b.
Efek terhadap otak dan kejiwaan, stroke, ketagihan dan kecemasan
c.
Mata berair, kebutaan dan katarak
d.
Penurunan indera penciuman dan mudah flu
e.
Merusak dan mengotori gigi, kanker mulut, tenggorokan, laring, dan bau mulut
f. Kulit keriput dan cepat rusak
g.
Kanker esophagus
h. Gangguan sirkulasi darah di lengan hingga tangan
i. Kanker paru (90%), Penyakit Paru Obstruktif
Kronik atau PPOK (75%),asma,emfisema
j.
Penyumbatan arteri jantung ( jantung ischemia-25%), serangan jantung
k.
Kanker hati
l. Kanker darah ( Leukemia) dan gangguan ginjal
m. Radang usus, kanker usus, dan pankreas
n. Osteoporosis, patah tulang punggung, patah tulang pinggul
o. Sakit menstruasi, menopause dini ( Ellizabet, 2010).
Secara umum bahaya menghisap rokok
dapat dilihat berdasarkan tinjauan kesehatan. Rokok adalah benda beracun yang
memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan.
2.7 Tahap
Perkembangan Anak
2.7.1 Tumbuh
Kembang Anak
a.
Definisi Tumbuh Kembang Anak
Pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besarnya sel
di seluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur, sedangkan
perkembangan
merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melaui
tumbuh kematangan dan belajar ( Wong, 2000 dalam Aziz 2008).
Istilah tumbuh kembang mencakup 2
peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan,
yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
1.
Pertumbuhan (growth)
berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi
tingkat sel, organ maupun individu, yang bias diukur dengan ukuran berat (gram,
Pound, kilogram,), ukuran panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan
metabolic ( retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
2.
Perkembangan (development)
adalah bertambahnya kemampuan atau
(skill ) dalam sturktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola
yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Hal
ini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel- sel tubuh, jaringan tubuh,
organ- organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing
dapat memenuhi fungsinya. Termasuk perkembangan emosi, intelektual dan tingkah
laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Utin Humairoh, 2010).
Peristiwa
pertumbuhan dan perkembanagan secara fisik dapat terjadi dalam perubahan ukuran
besar kecilnya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga perubahan organ
tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan secara intelektual anak dapat dilihat dari
kemampuan secara symbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung,
membaca, dan lain-lain, sedangkan perkembangan secara emosional anak dapat
dilihat dari perilaku sosial di lingkungan anak (Aziz, 2005).
b.
Pola Pertumbuhan dan
perkembanga Anak
Perkembangan pada anak baik terjadi percepatan maupun
perlambatan yang saling berhubungan antara satu organ dengan organ lain. Dalam
peristiwa tersebut dapat mengalami beberapa pola pertumbuhan dan perkembangan anak, diantaranya :
1.
Pola pertumbuhan fisik yang
terarah
Pada pola ini terdapat dua prinsip atau hukum perkembangan yaitu
prinsip cephalo-caudal dan prinsip proximodistal. Pertama, Cephalocaudal atau
head to tail direction( dari arah kepala kemudian ke kaki). Pola pertumbuhan
dan perkembanagan ini di mulai dari kepala yang di tandai dengan perubahan
ukuran kepala yang lebih besar, kemudian perkembangan kemampuan untuk
menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan kebagian
ekstremitas bawah lengan, tangan, dan kaki.
Kedua, proximal distal atau near to far direction. Pola
ini dimulai dari menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat atau
sumbu tengah kemudian baru menggerakkan anggota gerak yang lebih jauh atau
kearah bagian tepi, seperti menggerakkan bahu dahulu kemudian baru jari-jari.
2. Pola perkembangan dari umum ke khusus
Pola ini dikenal dengan nama
pola mass to specific atau to complex, pola pertumbuhan dan perkembangan ini
dapat dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih umum ( sederhana ) dahulu
baru kemudian daerah yang lebih kompleks (khusus), seperti melambaikan tangan
kemudian baru memainkan jarinya.
3. Pola perkembangan berlangsung dalam
tahapan perkembangan
Pola ini mencerminkan ciri
khusus dalam setiap tahapan perkembangan, yang dapat digunakan untuk mendeteksi
perkembangan selanjutnya. Pada pola ini tahapan perkembanga dibagi menjadi lima
bagian yang memiliki ciri khusus dalam setiap perkembangan diantaranya :
a. Masa pra lahir, terjadi pertumbuhan yang
sangat cepat pada alat dan jaringan tubuh.
b. Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian
dengan kehidupan diluar rahim dan hampir sedikit aspek pertumbuhan fisik dalm perubahan.
c. Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai
dengan lingkungan yang mempengaruhi dan memiliki kemampuan untuk melindungi dan
memghindari dari hal yang mengancam dirinya.
d. Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat
dalam aspek sifat, sikap, minat, dan cara penyesuaian dengan lingkungan dalam
hal ini keluarga dan teman sebaya.
e. Masa remaja akan terjadi perubahan kearah
dewasa sehingga kematangan pada tanda – tanda pubertas.
4. Pola perkembangan dipengaruhi oleh
kematangan dan latihan ( belajar)
Proses kematangan dan belajar
pada pola ini selalu mempengaruhi perubahan dalam perkembangan anak, antar
kematangan dan proses belajar terjadi interaksi yang kuat dalam mempengaruhi
perkembangan anak. Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar
untuk mencapai proses kematangan kemudian kematangan yang dicapainya dapat
disempurnakan melalui rangsangan yang tepat.
( Aziz, 2005).
c.
Faktor
yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
1.
Faktor Herediter
Faktor Herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan
sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak disamping faktor lain. Yang
termasuk faktor herediter adalah bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa.
Faktor ini dapat ditentukan dengan
intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur , tingkat sensitivitas
jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan
tulang.
2.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan
penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi yang sudah dimiliki.
Yang termasuk faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal,
lingkungan yang masih dalam kandungan dan lingkungan post natal yaitu
lingkungan setelah bayi lahir ( Aziz, 2008).
d.
Tahapan perkembangan
psikoseksual
Masalah perkembangan seksual dibawah ini merupakan
perkembangan seksual normal yang terdiri dari tahapan – tahapan sebagai berikut
:
1.
Masa kanak- kanak ( 0- 18 bulan)
2.
Masa
kanak- kanak awal ( 18 bulan- 5 tahun)
3.
Masa
kanak- kanak akhir ( 5-12 tahun)
4.
Masa remaja awal ( 12- 15
tahun)
5.
Masa remaja akhir ( 16-18
tahun)
6.
Masa muda(18-23 tahun)
7.
Masa dewasa muda ( 23-30 tahun)
8.
Masa dewasa tengah( 31- 36
tahun)
9.
Masa dewasa akhir ( 46- 40 tahun)
10.
Masa tua ( 60 tahun keatas)
( Yulita Nopriani, 2010).
2.7.2 Tahap pertumbuhan dan perkembangan
Tumbuh kembang pada masa anak sudah
mulai sejak dalam kandungan sampai usia 18 tahun. Hal ini sesuai dengan
pengertian anak menurut WHO, yaitu sejak terjadinya konsepsi sampai usia 18
tahun.
Ada beberapa tahapan dalam pertumbuhan dan perkembnagan
pada masa kakan-kanak menurut Soetjiningsih (2002), tahapan tersebut adalah
sebagai berikut :
1.
Masa prenatal ( konsepsi-lahir)
terbagi atas :
a.
Masa
Embrio (mudigah) : Masa konsepsi
sampai 8 minggu
b.
Masa janin (fetus) : 9 minggu sampai kelahiran
2.
Masa pascanatal, terbagi atas :
a.
Masa neonatal usia 0-28 hari
Neonatus
dini (perinatal) : 0-7 hari
b.
Neonatus lanjut : 8-28 hari
Masa bayi :
·
Masa bayi dini : 1-12 bulan
·
Masa bayi akhir :1-2 tahun
3.
Masa prasekolah usia 2-6 tahun
terbagi atas :
a.
prasekolah awal (masa balita) :
mulai 2-3 tahun
b.
prasekolah akhir : 4-6 tahun
4.
Masa
sekolah atau masa pubertas terbagi atas :
a.
Wanita : 6-10 yahun
b.
Laki-laki : 8-12 tahun
5.
Masa adolesensi atau masa
remaja, terbagi atas :
a.
Wanita : 10-18 tahun
b.
Laki-laki : 12-20 tahun
Berikut ini akan dibahas secara
umum pencapaian tumbuh dan kembang secara normal pada masa prenatal,neonatal,
bayi, balita, dan prasekolah :
1. Masa prenatal
Kehidupan bayi pada masa prenatal
dikelompokkan menjadi dua periode yaitu:
- Masa
embrio yang dimulai sejak konsepsi sampai kehamilan delapan minggu
- Masa
fetus yang dimulai sejak kehamilan 9 minggu sampai kelahiran
1.
Masa neonatal
Pada masa ini terjadi adaptasi
terhadap lingkungan, perubahan, sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya
organ-organ tubuh.
2.
Masa bayi
Pada masa
bayi, pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara cepat.
3.
Masa balita (1-3 tahun)
Pada masa ini, pertumbuhan fisik
anak relative lebih lambat dibandingkan dengan masa bayi, tetapi perkembangan
motorik berjalan lebih cepat.
4. Masa pra sekolah akhir (3-5 tahun)
Pertumbuhan gigi susu
sudah lengkap pada masa ini, petumbuhan fisik juga relative pelan, naik turun
tangga sudah dapat dilakukan sendiri.
5. Masa kanak-kanak
Pada
masa kanak-kanak terjadi 2 masa yang dialami oleh seorang anak yaitu :
a.
Awal masa
kanak-kanak yang berlangsung dari usia 2-6 tahun
b.
Akhir masa
kanak-kanak yang berlangsung dari usia 6-13 tahun
7. Masa pubertas
Masa pubertas merupakan
periode yang singkat yang bertumpang tindih dengan masa akhir kanak-kanak dan
permulaan masa remaja.
8. Masa remaja
Masa remaja merupakan masa
yang penting dalam rentang kehidupan dimasa yang mengalami suatu periode
peralihan, usia bermasalahan dan saat dimana individu mencari identitas ( jati
diri) menuju masa dewasa.
9. Masa dewasa
Masa dewasa yaitu periode yang paling panjang dalam masa kehidupan, umumnya
dibagi atas tiga periode yaitu masa dewasa dini, dari umur delapan belas hingga
lebih kurang empat puluh tahun, masa dewasa pertengahan atau “setengah umur” dari
empat puluh tahun dan memasuki masa
dewasa akhir atau “usia lanjut” dari enam puluh tahun hingga meninggal.
( Yulita Nopriani, 2010).
2.7.3 Fase perkembangan berikut merupakan masa perkembangan menurut
Charlate Buhler, yaitu sebagai berikut :
1. Fase
pertama ( 0-1 tahun)
Masa menghayati objek-objek
diluar diri sendiri dan saat melatih fungsi-fungsi terutama fungsi motorik,
yaitu fungsi yang berkaitan dengan gerakan –gerakan dari badan dan anggota
badan.
2. Fase
kedua( 2-4 tahun)
Masa pengenalan dunia objektif
diluar diri sendiri, dipenghayatan subjektif. Mulai ada pengenalan pada aku
sendiri dengan bantuan bahasa dan kemauan sendiri. Fase ini disebut juga sebagai fase bermain.
3. Fase ketiga (5-8 tahun)
Masa sosialisasi anak, pada masa anak mulai
memasuki masyarakat luas. Misalnya taman kanak-kanak, pergaulan dengan
kawan-kawan sepermainan. Anak mulai belajar mengenal dunia sekitar secara
objektif.
4. Fase keempat (9-11 tahun)
Masa
sekolah rendah, pada periode ini anak mencapai
objektivitas tertinggi. Masa menyelidiki, kegiatan mencoba bereksperimen,
karena adanya dorongan-dorongan meneliti dan rasa ingin tahu yang besar.
5.Fase
kelima (13-15 tahun)
Masa tercapainya sintese antara
sikap kedalam batin sendiri dengan sikap keluar kepada dunia objektif.
( Yulita Nopriani,2010).
2.7.4 Cara
Deteksi Tumbuh Kembang Anak
1. Penilaian
Pertumbuhan Anak
Dalam penilaian pertumbuhan terhadap anak
terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi tumbuh kembang
pada anak, diantaranya cara pengukuran antropometrik, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan radiology.
2. Penilaian
Perkembangan Anak
Untuk menilai perkembangan pada anak
pertama yang dapat dilakukan adalah dengan wawancara tentang faktor kemungkinan
yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan, kemudian melakukan tes skrining perkembangan anak dengan
mengguanakan DDST ( Denver Development Screening Test), tes IQ, tes
Psikologis, evaluasi dalam lingkungan anak yaitu interaksi anak selama ini,
evaluasi fungsi penglihatan, pendengaran, bicara, bahasa serta melakukan
pemeriksaan fisik lainnya seperti pemeriksaan neurologist, metabolic, dan
lain-lain. ( Aziz, 2005).
2.7.5
Konsep Dasar Remaja
Definisi Remaja
Masa Remaja adalah
masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Orang menyebut masa
remaja sebagai masa yang paling indah, tetapi berlawanan dengan itu, orang
menyebutkan juga sebagai masa yang paling rawan. Keindahan dan kerawanan ini
muncul pada masa remaja terjadi sesuatu yang baru, yaitu perubahan-perubahan
fisik dan psikis. Secara fisik perubahan nyata ialah pertumbuhan tulang dan
perkembangan alat kelamin serta tanda-tanda seksual sekunder baik pada
laki-laki maupun perempuan (Kollman, 1998).
Remaja
biasanya merupakan kelompok umur yang berada pada kurun usia 10-19 tahun atau
15-24 tahun. Definisi usia remaja memang berbeda-beda sesuai dengan sosial
budaya setempat. Akan tetapi, di Indonesia Undang-undang No 4 tahun 1979
tentang kesejahteraan anak menetapkan definisi anak sebagai seseorang yang
belum mencapai usia 21 tahun dan belum pernah kawin (Kollman, 1998).
Ada juga yang mengatakan masa remaja atau adolescence
diartikan sebagai perubahan emosi dan perubahan sosial pada masa remaja.
Masa remaja biasanya terjadi sekitar dua tahun setelah masa pubertas,
menggambarkan dampak perubahan fisik dan pengalaman emosi mendalam (Kollman,
1998).
2.8
Prilaku
Menurut Notoatmodjo
(2003) perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang
bersangkutan baik yang dapat diamati langsung,maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar.
Skiner (1938) dalam
Notoatmodjo (2003) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Skiner membedakan adanya
dua respon,yaitu
1. Respondent
respons
Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan
–rangsangan (stimulus) tertentu.Stimulus semacam ini disebut eliciting
stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relative tetap.
2. Operant respons
Respon yang timbul dan berkembang
kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu.Perangsang ini disebut reinforcing
stimulation atau reinforcer, karena memperkuat respon.
Dilihat dari bentuk respon terhadap
stimulus ini,maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua,yaitu:
1.Perilaku tertutup (covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus
dalam bentuk terselubung atau tertutup. Respon atau reaksi terhadap stimulus
ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran dan sikap
yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut,dan belum dapat diamati
secara jelas oleh orang lain.
2. Perilaku terbuka (Overt behavior)
Dua faktor yang mempengaruhi
terbentuknya perilaku individu menurut Notoatmodjo (2003), yaitu:
1. Faktor internal, yakni karakteristikorang yang
bersangkutan,yang bersifat given atau bawaan,misalnya:tingkat
kecerdasan,tingkat emosional,jenis kelamin.
2. Faktor eksternal, yakni lingkungan,baik
lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi, politik.
Proses
terbentuknya perilaku tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut
Asumsi Determinan Prilaku Manusia
-
Pengalaman
-
Keyakinan
-
Fasilitas
-
Sosial Budaya
|
-
Pengetahuan
-
Persepsi
-
Sikap
-
Keinginan
-
Motivasi
-
Niat
|
PRILAKU
Sumber : Soekidjo Notoatmodjo, 2003.
Benyamin
Bloom (1908) seorang ahli
psikologi pendidikan membagi prilaku manusia kedalam 3 “Domain”, ranah,
kawasan yaitu : kognitif (Cognitive), afektif (Affective), dan
psikomotor (Psycomotor). Dalam perkembangan teori Bloom di
modifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan keseahtan (Notoatmodjo, 2003)
menjadi :
Proses
terbentuknya prilaku menurut teori Bloom dimodifikasikan Notoatdmojo (2007)
yaitu:
2.2 Diagram
-
Pengetahuan
(knowledge)
-
Sikap (attitude)
-
Tindakan
(practice)
|
PRILAKU
|
Sumber : Soekidjo
Notoatmodjo, 2007
2.8.1
Pengetahuan
Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (overt behaviour).Pengetahuan merupakan hasil dari tahu,dan
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Penginderaan
terjadi melalui pancaindra.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga.Apabila suatu tindakan didasari oleh pengetahuan dan sikap yang positif,maka tindakan tersebut
akan bersifat langgeng (long lasting). Tapi sebaliknya,apabila tindakan
tersebut itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan
berlangsung lama (menurut Notoatmodjo, 2003).
a. Proses Adopsi perilaku.
Penelitian Rogers
(1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku
baik),di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan,yaitu :
1. Awareness
(kesadaran),yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus
(objek) terlebih dahulu.
2. Interest,
yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
3. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan
tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya).
4. Trial, orang telah mulai mencoba
perilaku baru.
5. Adoption, subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,kesadaran
dan sikapnya terhadap stimulus.
b. Tingkat pengetahuan di dalam domain
kognitif.
Pengetahuan yang tercakup dalam domain
kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan
sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya dan termasuk ke
dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2.Memahami.(comprehension) Memahami
diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui,dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan
untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real
(sebenarnya).
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk
menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen,tetapi masih
didalam satu struktur organisasi,dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu
kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan
untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan
dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin
diukur dari subjek penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin
kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di
atas (Notoatmodjo,2003).
2.8.2
Sikap
Notoadmojo (2003) mengemukakan bahwa sikap merupakan
reaksi atau respon seseorang yang baik atau buruk terhadap suatu stimulus atau
objek lain lebih jelasnya banwa sikap merupakan reaksi terhadap objek
dilingkungan tertentu sebagai suatu pengetahuan objek,jadi dengan adanya sikap
buruk maka ada reaksi yang buruk pula terhadap objek.sikap merupakan hal yang
penting,karena memiliki konsep dasar tertentu yang dipilih dan akan
mempengaruhi dalam tindakan selanjutnya.
Sikap mempunyai peran yang
amat penting apabila sikap sudah. Terbentuk pada diri manusia, maka sikap-sikap tersebut akan turut menentukan tingkah lakunya terhadap
objek-objek,dan dengan adanya sikap akan menyebabkan manusia bertindak secara
khas terhadap objek-objek tertentu.
Notoadmojo (2003) mendefinisikan sikap
adalah sebagai suatu perasaan, keyakinan atau nilai-nilai yang berpengaruh pada
bagaimana seseorang berprilaku.pada dasarnya manusia merupakan mahluk yang
dapat berpikir,merasa dan bertindak.sikap dan tindakan manusia bersumber dari pengetahuan
yang didapatnya melalui kegiatan merasa dan berpikir.
Pengetahuan mengenai suatu objek tidak
sama dengan sikap terhadap objek tersebut.pengetahuan mengenai suatu objek baru
menjadi sikap terhadap objek tersebut apabila pengetahuan disertai dengan
kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap objek tersebut.
Jadi, sikap itu merupakan reaksi atau
respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap sesuatu stimulus atau
objek.dari batasan diatas dapat di simpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak
dapat langsung dilihat,tetapi hanya dapat ditapsirkan terlebih dahulu dari
prilaku tertutup.sikap secara nyata merupakan konotasi adanya kesesuaian reaksi
terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi
yang bersifat emosional terhadap stimulus social. Newcomb, salah satu ahli
psikososial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk
bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan reaksi tertutup,
bukan merupakan terbuka.
Menurut Notoadmojo (2003), setelah
seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan
penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui ,proses selanjutnya
diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau
disikapinya.inilah yang disebut dengan tindakan (practice) kesehatan.
Oleh sebab itu indicator kesehatan ini
mencakup hal-hal tersebut diatas,yakni :
a. Tindakan sehubungan dengan praktek.
Tindakan atau perilaku ini
mencakup : Pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit.
b. Tindakan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan.
Tindakan atau perilaku ini
mencakup : Mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang, melakukan olahraga secara teratur, tidak merokok, tidak minum minuman keras dan narkoba.
c. Tindakan kesehatan lingkungan.
Tindakan ini mencakup :
membuang air besar di jamban (wc), membuang sampah ditempat
sampah,menggunakan air bersih untuk mandi,cuci,masak,dan sebagainya.
Menurut Lawrence Green (1980)
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prilaku ada 3 yaitu :
1.
Faktor Predisposisi
(Predisposising Factors)
Adalah faktor penentu timbulnya prilaku seperti fikiran
dan motivasi untuk berprilaku yang meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan,
keyakinan, nilai-nilai dan persepsi yang berhubungan dengan motivasi individu
untuk berprilaku. Faktor lainnya adalah variabel demografi, seperti status
sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, dan jumlah anggota keluarga.
2.
Faktor Pendukung (Enabling
Faktors)
3.
Adalah faktor yang mendukung
timbulnya prilaku sehingga privasi atau fikiran menjadi kenyataan.
4.
Faktor Pendorong
(Reinforcing Factors)
Adalah faktor yang merupakan suatu yang sangat pentung
untuk terbentuknya prilaku yang merupakan sumber yang sangat penting untuk
terbentuknya prilaku yang berasal dari orang lain, yang merupakan kelompok
referensi dari prilaku, seperti keluarga, teman sebaya, guru atau petugas
kesehatan.
Secara lengkap kerangka teori (Green, 1980)
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Kerangka Teori Menurut Green (1980) :
Faktor Predisposisi :
-
Pengetahuan
-
Keyakinan
-
Nilai
-
Sikap
-
Variabel Demografik
tertentu
|
Faktor pemungkin :
-
Ketersediaan sumber daya
manusia
-
Keterjangkauan
-
Prioritas dan komitmen masyarakat terhadap kesehatan
|
Faktor Penguat :
-
Keluarga
-
Teman
-
Guru
-
Majikan
-
Petugas kesehatan
|
PRILAKU
SPESIFIK
|
KERANGKA
KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL
3.1
Kerangka Konsep
Kerangka
konsep dibuat sesuai dengan masalah yang dibahas yaitu mengacu pada teori
Benyamin Bloom (1908) dalam Natoatmodjo (2007), antara lain : pre-test
(pengetahuan dan sikap pada siswa SMP sebelum intervensi, intervensi
(penyuluhan kesehatan tentang merokok) dan post-test (pengetahuan dan
sikap pada siswa SMP setelah intervensi).
Siswa SMP Negeri 13 Pelembang
|
Pengetahuan dan sikap sebelum intervensi
(pre-test)
|
Penyuluhan (tindakan) kesehatan tentang
merokok
|
Pengetahuan dan sikap setelah intervensi
(post-test)
|
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
(Benyamin Blomm dalam Notoatmodjo, 2007)
46
|
3.2 Defenisi Operasional Variabel
No
|
Variabel
|
Defenisi
Operasional
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala
|
|
1
|
Pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
Sesuatu yang diketahui responden tentang merokok
|
Wawancara
|
Kuesioner
|
1. Baik: Skor
76%-100%
2.Cukup:skor 56%-75%
3.kurang : 40%-55%
(Arikunto,2007)
|
Ordinal
|
|
2
|
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
Sesuatu yang diketahui responden tentang merokok
|
Wawancara
|
Kuesioner
|
1. Positif Jika Score
setelah penyuluhan ≥ 43,88 mean
2. Negatif jika score sebelum penyuluhan
< 43,88 mean
(Nursalam, 2003)
|
Ordinal
|
|
3
|
Pengetahuan siswa setelah
dilakukan penyuluhan
|
Sesuatu yang diketahui responden dalam tindakan tentang merokok
|
Wawancara
|
Kuesioner
|
1. Baik: Skor 76%-100%
2.Cukup:skor 56%-75%
3.kurang : 40%-55%
(Arikunto, 2007)
|
Ordinal
|
|
Sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan
|
Sesuatu yang diketahui responden dalam tindakan menjaga dan memelihara
kesehatan terhadap bahaya merokok.
|
Wawancara
|
Kuesioner
|
1. Positif Jika Score
setelah penyuluhan ≥ 45,72 mean
2. Negatif jika score sebelum penyuluhan < 45,72 mean
(Nursalam, 2003)
|
|
3.3
Hipotesa Penelitian
- Ada pengaruh tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan tentang merokok
- Ada pengaruh sikap siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan tentang merokok.
METODE PENELITIAN
4.1
Desain Penelitian
Jenis penelitian ini
merupakan penelitian kuantitatif. Pre-eksperimen dengan rancangan desain
pre-test dan post-test group desain, di dalam desain ini dilakukan
dengan cara observasi pertama (pre-test) yang memungkinkan untuk menguji
perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya pendekatan dengan post-test
(Arikunto, 2002).
4.2
Populasi dan Sampel
Penelitian
4.2.1.
Populasi Penelitian
Populasi
adalah keseluruhan objek penelitian
atau objek yang diteliti tersebut. Sedangkan sebagian yang diambil dari
keseluruhan objek yang deteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi
(Notoatmodjo, 2003). Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh
siswa laki-laki yang pernah merokok dalam catatan buku bimbingan konseling (BK)
selama 1 tahun terakhir di SMP Negeri 13 Palembang sejumlah 78 orang..
4.2.2
Sampel
Penelitian
51
|
4.2.3 Kriteria
Penelitian
1. Kriteria
inklusi
Kriteria inklusi
adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang layak untuk dilakukan
penelitian atau dijadikan responden. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:
a. Bersedia berpartisipasi dalam penelitian.
b. Siswa laki-laki
12-15 tahun yang pernah merokok
c. Tercatat sebagai siswa di sekolah SMP Negeri 13 Palembang.
d. Siswa dalam keadaan sehat atau tidak sakit.
- Kriteria eksklusi
Kriteria
eksklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang tidak layak
dijadikan sebagai responden. Kriteria eksklusi pada penelitian ini
adalah:
a. Siswa yang tidak mau jadi responden
b. Siswa dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan
untuk di mengikuti penyuluhan
c. Siswa laki-laki tidak merokok
d. Siswa bukan siswa SMP Negeri 13 Palembang.
4.3 Pengukuran
dan Pengamatan Variabel
1. Pengukuran
variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara (koesioner). Untuk
mengukur variabel pengetahuan dilakukan dengan cara memilih satu jawaban :
Baik : skor 76% - 100%
Cukup : skor 56%- 75%
Kurang
: skor ≤ 56%
(Arikunto,
2007)
Dengan penilaian
Jawaban
benar : 1
Jawaban
salah : 2
2. Pengukuran
variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara (kuesioner). Untuk mengukur
variabel sikap dilakukan dengan cara check list, yang dikemukakan oleh
(Nursalam, 2003) :
1.negatif
jika score sebelum dan setelah penyuluhan < mean
2. positif jika score sebelum dan setelah
penyuluhan > mean
Dengan penilaian (skala Likert)
Untuk pernyataan positif
1.
Sangat Setuju : SS 4
2.
Setuju :
S 3
3.
Tidak Setuju : TS 2
4.
Sangat Tidak Setuju : STS 1
Untuk pernyataan negatif
1.
Sangat Tidak Setuju : STS 4
2.
Tidak Setuju : TS 3
3.
Setuju :
S 2
4.
Sangat Setuju : SS 1
4.4 Lokasi
dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian
dilakukan di SMP Negeri 13 Palembang yang terletak di Jalan Gubah No.1 Kecamatan Ilir Barat II Palembang .
Waktu penelitian ini dilakukan pada
bulan April 2012.
4.5 Etika Penelitian
Sebelum melakukan
penelitian, responden terlebih dahulu menandatangani surat persetujuan untuk
menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan.
4.6 Pengumpulan Data
4.6.1
Data Primer
Data primer dalam penelitian ini adalah
data yang tidak diperoleh langsung dari sumber data pertama atau tangan pertama
dilapangan. Sumber tekhnik
pengumpulan data yaitu mengambil data dari responden melalui wawancara dengan
kuesioner, observasi. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui
koesioner yang di sebar kepada sampel
yang diminta untuk menyatakan pendapatnya yaitu seluruh siswa yang pernah
merokok di SMP Negeri 13 Palembang tahun 2012.
4.6.2
Data Sekunder
Data Sekunder ini dalam
penelitian ini adalah data yang diambil dari arsip sekolah dan data TU di SMP
Negeri 13 Palembang, serta penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan
dengan penyuluhan merokok.
4.7
Teknik Pengolahan Data
Langkah-langkah pengelolahan data
adalah sebagai berikut :
1.
Editing (pengeditan)
Proses pengeditan atau penyuntingan
dilakukan dengan cara memeriksa angket yang diisi oleh responden. Proses
pengeditan ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam
menganalisis data yang disebabkan oleh adanya data yang salah diisikan oleh
responden :
a. Lengkap
: Apakah semua pertanyaan sudah terisi jawabannya.
b. Jelas :
Apakah tulisan jawaban cukup jelas dan terbaca.
c. Relevan :
Jawaban yang tertulis apakah relevan dengan
jawabannya.
d. Konsisten :
Apakah antara beberapa pertanyaan saling berkaitan
2. Coding (pengkodean)
Merupakan
kegiatan data yang berbentuk huruf menjadi data yang berbentuk angka yang
mempermudah saat menganalisis saat mengentri data.
3. Entry (pemasukan data)
Merupakan tahap
pemasukan data kedalam komputer.
4. Cleaning (pembersihan data)
Merupakan kegiatan mengecek ulang data yang
sudah di entri apakah ada kesalahan atau tidak.
4.8 Prosedur
Penelitian
Prosedur
penelitian berguna untuk mempermudah peneliti menyelesaikan penelitian, apapun
prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut :
4.8.1 Tahap Pra Penelitian
Tahap
ini dimulai dengan pemilihan lahan. Setelah masalah dan judul ditentukan,
peneliti kemudian melaksanakan kajian kepustakaan dan mengajukan surat
perizinan untuk melakukan pengambilan data awal ke tempat penelitian untuk
memperkuat latar belakang dan pengumpulan data data yang diperlukan.
Selanjutnya
peneliti mulai menyusun proposal dan instrumen penelitian dibawah bimbingan
pembimbing. Setelah proposal disetujui oleh pembimbing proposal akan di
seminarkan untuk mendapatkan saran dari penguji 1 (satu) dan penguji 2
(dua), penyangga serta peserta seminar
lainya guna perbaikan proposal penelitian.
4.8.2 Tahap Persiapan Penelitian
Setelah
perbaikan hasil seminar proposal dilakukan, peneliti selanjutnya mengurus surat
izin/persetujuan untuk melakukan penelitian di SMP Negeri 13 Palembang.
4.8.3 Tahap Pelaksanaan Penelitian
Setelah
adanya surat izin penelitian, peneliti selanjutnya mulai melakukan penelitian,
pertama-tama yang dilakukan ialah menyebarkan koesoner (pre-test) berisi
tentang pertanyaan untuk pengetahuan dan sikap tentang merokok. Memberikan
penyuluhan tentang merokok dan langsung melakukan pengukuran (post-test) dengan
membagikan koesioner setelah penyuluhan (post-test) pada hari yang sama setelah
penyuluhan kepada siswa dengan cara membagikan kuesioner tentang pengetahuan
dan sikap diharapkan siswa lebih memahami tentang merokok.
4.9 Teknik Analisa Data
4.9.1 Analisis Univariat
Teknik
anaisis data dengan menggunakan komputer dengan menggunakan teknik SPSS 15.0.
Teknik analisa yang digunakan untuk
mengetahui adanya perubahan pengetahuan siswa SMP sebelum dan sesudah diberikan
penyuluhan kesehatan adalah dengan melakukan analisis univariat. Pada analisis
univariat semua data yang terkumpul disajikan dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi, gunanya untuk mendapatkan gambaran distribusi responden atau
variabel yang diteliti.
4.9.2 Analisis Bivariat
Analisis
ini dilakukan dengan uji T tes paired one case,, dengan cara 2
kelompok/sampel yang respondenya sama dan diukur dua kali yaitu pre-test
dan post-test. Dengan tingkat kepercayaan 95% dan α =0,05 antara pre-test
dan post test serta untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan.
Dengan keputusan jika p value ≤ α (0,05)
maka Ho ditolak dan jika p value > α (0,05) maka Ho diterima
(Arikunto, 2010).
HASIL
DAN PEMBAHASAN
5.1 Visi, Misi, dan Tujuan SMP Negeri 13
Palembang
1.
Visi
Visi SMP Negeri 13 Palembang
adalah “ Berilmu, Berakhlak Mulia, dan Berbudaya
2.
Misi
Misi SMP Negeri 13 Palembang adalah :
1.
Menyelenggarakan
kegiatan pembelajaran yang efektif.
2.
Memotivasi
dan membantu siswa untuk mengenali potensi di dirinya sehingga dapat berkembang
secara optimal.
3.
Mengembangkan pengetahuan
sesuai dengan minat dan bakat siswa.
4.
Menanamkan keyakinan terhadap
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
5.
Meningkatkan kesadaran siswa
sebagai makhluk sosial dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
3.
Tujuan
1.
Meningkatkan
nilai rata-rata ujian akhir setiap tahun pelajaran
2.
Meningkatkan
jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi
3.
Meningkatkan
perilaku akhlak mulia bagi peserta didik
4.
Menciptakan
suasana agamis dan budi pekerti luhur dilingkungan sekolah
5.
Menanamkan
rasa kesadaran siswa untuk aktif melestarikan budaya dan memelihara lingkungan.
5.1.1 Identitas Sekolah
1.
Nama Sekolah : SMP Negeri 13 Palembang
2.
NSS : 201116004017
3.
NPSN : 10603757
4. Alamat Sekolah : Jl. Gubah No. 1 Palembang
5.
Didirikan Tahun : 1979
5.1.2 Identitas Kepala
Sekolah
1.
Nama Lengkap : Heni Suryani,S.Pd, MM
2.
NIP : 1196305251984112001
3.
Pangkat / Golongan : Pembina / IV / a
4.
Pendidikan Terakhir : S 2
5.
Jurusan : Manajemen Pendidikan
6.
Kepala Sekolah : 23 Januari 2006
5.1.2
Fasilitas
1.
Luas tanah :
2.525 m
2.
Lapangan Upacara : 19 x 21 m
3.
Lapangan Olah Raga : 19 x 21 m
4.
Ruang teori / Kelas : 14
5.
Ruang Kepala Sekolah : 1
6.
Ruang Tata Usaha : 1
7.
Ruang Wakil Kepala Sekolah : 1
8.
Ruang Perpustakaan : 1
9.
Ruang Laboratorium
a. Laboratorium Fisika :
1
b. Laboratorium Kimia :
1
c. Laboratorium Biologi :
1
d. Multi Media :
1
10.
Ruang Komputer : 1
11.
Mushollah : 1
12.
Ruang OSIS : 1
13.
Ruang Pramuka : 1
14.
Kantin : 1
15.
WC Kepala Sekolah : 1
16.
WC Guru : 2
17.
WC Siswa : 5
18.
Komputer KBM : 15
19.
Komputer kantor : 4
20.
Laptop
5.1.3
Keterangan
No
|
JENIS
|
L
|
P
|
Golongan
|
Jml
|
KET
|
||||
Jml
|
IV
|
III
|
II
|
I
|
||||||
1.
|
Kepala Sekolah
|
-
|
1
|
1
|
1
|
-
|
-
|
-
|
1
|
|
2.
|
Wakil Kepala Sekolah
|
4
|
-
|
4
|
4
|
-
|
-
|
-
|
4
|
|
3.
|
Guru Mata Pelajaran
|
11
|
44
|
59
|
24
|
31
|
-
|
-
|
55
|
|
4.
|
Guru BK
|
1
|
2
|
3
|
2
|
1
|
-
|
-
|
3
|
|
5.
|
GTT
|
2
|
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
6.
|
Pegawai Tetap
|
3
|
3
|
6
|
-
|
5
|
1
|
-
|
6
|
|
7.
|
PTT
|
4
|
4
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
8.
|
Pustakawan
|
1
|
-
|
1
|
-
|
1
|
-
|
-
|
-
|
|
Jumlah
|
27
|
54
|
74
|
30
|
39
|
1
|
-
|
69
|
5.1.4
Keadaan Siswa dan Kelas
Kelas
|
L
|
P
|
JUMLAH
|
VII
|
183
|
117
|
400
|
VIII
|
152
|
165
|
317
|
IX
|
129
|
147
|
276
|
JUMLAH
|
464
|
529
|
993
|
5.1.5
Struktur KTSP SMP Negeri 13
Palembang
No
|
Mata Pelajaran
|
Standar
|
SMP N 13 Plg
|
Ket
|
1
|
Pendidikan Agama
|
2
|
2
|
|
2
|
Pendidikan Kewarganegaraan
|
2
|
2
|
|
3
|
Bahasa Indonesia
|
4
|
5
|
+ 1
|
4
|
Bahasa Inggris
|
4
|
4
|
|
5
|
Matematika
|
4
|
5
|
+ 1
|
6
|
IPA Terpadu
|
4
|
5
|
+ 1
|
7
|
IPS
|
4
|
5
|
+ 1
|
8
|
Pendidikan Seni Budaya
|
2
|
2
|
|
9
|
Penjaskes
|
2
|
2
|
|
10
|
TIK
|
2
|
2
|
|
11
|
Muatan Lokal
|
2
|
2
|
|
12
|
Pengembangan Diri
|
2
|
2
|
|
Jumlah
|
34
|
38
|
+ 4
|
5.1.6
Buku Perpustakaan
Jumlah Judul Buku :
2096
Jumlah Fiksi :
601
Jumlah Non Fiksi :
3948
Jumlah Buku Paket :
4511
5.1.7
Potensi
Lingkungan Sekolah Yang Diharapkan Mendukung Lingkungan Sekolah
a.
Kualifikasi tenaga pendidikan
yang memadai
b.
Kedisiplinan tenaga pendidikan
yang baik
c. Adanya hubungan yang baik antara teman
sejawat
d.
Keratifitas tenaga kependidikan
yang tinggi
e.
Sarana dan prasarana yang cukup
tersedia
f.
Transfortasi kendaraan dari sekolah lancar
g.
Adanya listrik, PLN, air bersih
PDAM, dan telpon
h.
Dukungan dana yang cukup tinggi
dari pemerintah, orang tua, dan
masyarakat
i.
Motivasi belajar siswa yang tinggi
5.2 Hasil Penelitian
5.2.1 Proses
Penyuluhan
a. Sebelum Penyuluhan
Sebelum kegiatan penyuluhan dilakukan
meminta izin penelitian kepada pihak sekolah, setelah itu peneliti masuk ke
kelas dan meminta izin kepada guru untuk memanggil beberapa siswa dengan dibantu guru BK. Setelah itu peneliti
mengajak sisw ke ruang laboratorium untuk mengikuti kegiatan penyuluhan.
Pertama-tama
peneliti melakukan informed concent kepada siswa. Setelah itu peneliti
menjelaskan maksud dan tujuan kepada siswa peneliti langsung membagikan
koesioner dan menjelaskan cara-cara pengisian kuisioner tersebut. Setelah siswa
mengisi kuisoner (pre-test)
peneliti
melakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok.
b. Penyuluhan
Kegiatan
penyuluhan dilakukan selama 3 hari
dimulai dari tanggal 30 April, 1 Mei dan
3 Mei diruangan laboratorium. Pada hari senin tanggal
30 April 2012, penyuluhan yang berlangsung selama 40 menit yang dimulai dari pukul
14.00 WIB sampai pukul 14.40 WIB
didapat 18 responden, pada tanggal 1 Mei dilakukan penyuluhan pada jam 10.00
sampai 10.50 WIB di dapat 28 responden dan pada tanggal 3 mei dilakukan dengan
waktu yang sama jam 10.00.11.00 WIB didapat 22 responden. Penelitian melakukan penyuluhan dengan
mengunakan fasilitas leaflet, kotak rokok dan power point. Setelah koesioner
dibagikan peneliti memulai dengan mengucapkan salam, lalu menjelaskan tujuan
dari penyuluhan. Setelah pembukaan peneliti langsung meminta semua siswa yang
mengikuti penyuluhan tersebut mengisi dulu kuisoner yang telah dibagikan,
setelah seluruh siswa mengisi kuisoner peneliti mebagikan leflet dan langsung
menjelaskan materi yang akan disampaikan tentang merokok serta bermacam dampak
dari merokok. Setelah itu peneliti meminta beberapa siswa menjawab berapa
pertanyaan yang telah disampaikan peneliti melalui materi dan memberikan
cenderamata kepada beberapa siswa yang bisa menjawab pertanyaan dari peneliti
sebagai evaluasi dari kegiatan penyuluhan tersebut setelah itu peneliti menutup
acara penyuluhan tersebut.
c.
Setelah Penyuluhan
Setelah
dari penyuluhan peneliti mengelolah data yang telah didapat dari post-test dan pre-test yang telah dilakukan oleh
responden sehingga akan didapatkan hasil apakah ada perbedaan pengetahuan dan sikap siswa sebelum penyuluhan (pre-test) dan
setelah dilakukan penyuluhan (post-test).
5.2.2 Pengetahuan Siswa Sebelum Dilakukan
Penyuluhan Tentang Merokok Pada
Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP
Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan variabel pengetahuan
siswa sebelum dilakukan penyuluhan dibagi menjadi tiga kategori yaitu baik,
cukup dan kurang baik. Dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi
Responden Berdasarkan Pengetahuan
Siswa Sebelum Dilakukan Penyuluhan
Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di
SMP Negeri 13
Palembang
No
|
Pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1
|
Baik
|
31
|
39,7
|
2
|
Cukup
|
42
|
53,8
|
3
|
Kurang Baik
|
5
|
6,4
|
Total
|
78
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas
menunjukan bahwa pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan
tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak
31 (39,7 %), siswa yang mempunyai pengetahuan yang cukup 42 (53,8 %) dan siswa
yang mempunyai pengetahuan yang kurang 5 (6,4 %).
5.2.3.
Pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok
pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan
variabel pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan menjadi 3 kategori
yaitu baik, cukup dan kurang baik. Dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Pengetahuan Siswa Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang
Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang
Pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
1
|
Baik
|
61
|
78,2
|
2
|
Cukup
|
13
|
16,7
|
3
|
Kurang Baik
|
4
|
5,1
|
Total
|
78
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas
menunjukan bahwa pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan
tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak
61 (78,2 %), siswa yang mempunyai pengetahuan yang cukup 13 (16,7 %) dan siswa
yang mempunyai pengetahuan yang kurang 4 (5,1 %).
5.2.4 Sikap Siswa Sebelum Dilakukan Penyuluhan
Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13
Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan variabel sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan menjadi dua
kategori yaitu positif dan negatif. Dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap Siswa Sebelum Dilakukan
Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri
13 Palembang
No
|
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1
|
Positif
|
44
|
56,4
|
2
|
Negatif
|
34
|
43,6
|
Total
|
78
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas
menunjukan bahwa sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan tentang
merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebanyak 44 (56,4 %),
sedangkan siswa yang mempunyai sikap negatif sebanyak 34 (43,6 %).
5.2.5
Sikap Siswa Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada
Remaja Usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan variabel sikap siswa setelah
dilakukan penyuluhan menjadi dua kategori yaitu positif dan negatif. Dapat
dilihat dari tabel berikut :
Tabel 5.4
No
|
Sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan
|
Frekuensi
|
Persentase
|
1
|
Positif
|
43
|
55,1
|
2
|
Negatif
|
35
|
44,9
|
Total
|
78
|
100
|
Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap Siswa Setelah Dilakukan Penyuluhan
Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13
Palembang
Berdasarkan tabel di atas
menunjukan bahwa sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang
merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebanyak 43 (55,1 %),
sedangkan siswa yang mempunyai sikap negatif sebanyak 35 (44,9 %).
5.2.6 Perbedaan Antara Pengetahuan
Siswa Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Tentang Merokok Pada Remaja
Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan variabel pengetahuan siswa
sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan
kesehatan tentang merokok terhadap remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13
Palembang Tahun 2012. Dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 5.5
Perbedaan Antara
Pengetahuan Siswa Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang
Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang
No
|
Perbedaan Pengetahuan siswa sebelum dan setelah penyuluhan
|
Mean
|
Standar deviasi
|
P value
|
1
|
Pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
11.83
|
2.153
|
|
2
|
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
13.54
|
2.521
|
P :0,005
|
3
|
Selisih
|
1.71
|
0.368
|
Dari tabel di atas
menunjukan bahwa rata-rata nilai pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan
11,83 dengan std Deviation 2,153 dan rata-rata nilai pengetahuan siswa
setelah dilakukan penyuluhan 13,54 dengan std Devation 2,521 dan selisih
nilai pengetahuan sebelum dan setelah penyuluhan mean 1,71 dan standar deviasi
0,368 dengan sig. (2 tailed) =0,005, ini menunjukan bahwa adanya
perbedaan nilai pengetahuan siswa sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan
(bermakna) dari 78 siswa.Penyuluhan kesehatan memberikan dampak perubahan pada
peningkatan pengetahuan siswa tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di
SMP Negeri 13 Palembang.
5.2.7 Perbedaan Antara Sikap Siswa
Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Tentang Merokok Pada Remaja
Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan
variabel sikap siswa sebelum dan sesudah
dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terhadap remaja usia
12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012. Dapat dilihat dari tabel
berikut ini
Tabel
5.6
Perbedaan Antara Sikap
Siswa Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada
Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang
No
|
Perbedaan sikap siswa sebelum dan setelah penyuluhan
|
Mean
|
Standar deviasi
|
P value
|
1
|
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
43.88
|
6.160
|
|
2
|
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
|
45.72
|
5.711
|
|
3
|
Selisih
|
1.84
|
0.449
|
Dari tabel di atas menunjukan bahwa
rata-rata nilai sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan 43,88 dengan std
Deviation 6,160 dan rata-rata nilai pengetahuan siswa setelah
dilakukan penyuluhan 45,72 dengan std Devation 5,711 dan pengetahuan
sebelum dan setelah penyuluhan selisih nilai mean 1,71 dan standar deviasi
0,368 dengan sig. (2 tailed) =0,005, ini menunjukan bahwa adanya
perbedaan nilai sikap siswa sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan (bermakna)
dari 78 siswa. Penyuluhan kesehatan memberikan dampak perubahan pada
peningkatan sikap siswa tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP
Negeri 13 Palembang Tahun 2012
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1. Pembahasan
Hasil Penelitian
6.1.1 Pengetahuan
Siswa
Hasil menunjukan bahwa pengetahuan siswa yang pernah merokok sebelum
dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang
memiliki pengetahuan baik sebanyak 31 (39,7 %), siswa yang mempunyai
pengetahuan yang cukup 42 (53,8 %) dan siswa yang mempunyai pengetahuan kurang
5 (6,4 %).
Sedangkan pengetahuan
siswa yang pernah merokok setelah
dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang
memiliki pengetahuan baik sebanyak 61 (78,2 %), siswa yang mempunyai
pengetahuan yang cukup 13 (16,7 %) dan siswa yang mempunyai pengetahuan kurang
4 (5,1 %).
Berdasarkan hasil
penelitian dengan menggunakan uji paried t-tes di dapatkan bahwa rata-rata
nilai pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan 11,83 dengan std Deviation
2,153 dan rata-rata nilai pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan 13,54
dengan std Deviation 2,521 dan selisih nilai mean 1,71 dan standar deviasi
0,368 dengan sig. (2 tailed)= 0,005 ini menunjukan bahwa adanya perbedaan nilai
pengetahuan siswa sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan (bermakna) dari 78
siswa.
Hasil penelitian
ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007), pengetahuan sangat penting dalam
kehidupan, terutama pada masa remaja, tetapi perlu cara yang tepat dalam
penyampaian, tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
terhadap suatu yang specifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan yang
paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain menyebutkan, menguraikan mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
Sesuai dengan teori
Notoatmodjo yang mengatakan apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi
perilaku didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka perilaku tersebut akan
bersifat lama, sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan
dan kesadaran maka tidak akan bersifat lama.
Data tersebut dapat
menggambarkan bahwa siswa kurang memahami pengetahuan tentang perilaku merokok.
Hal ini membuktikan bahwa sumber informasi tentang perilaku merokok belum
begitu sampai kepada remaja khususnya pelajar SMP. Dari hasil wawancara atau
angket yang diberikan dengan siswa sangat kurangnya sumber informasi bagi siswa
tentang bahaya merokok itu sendiri.
Menurut Ellizabet (2010) menyatakan bahwa faktor terbesar dari kebiasaan
merokok adalah faktor sosial atau lingkungan, dan lingkungan di keluarga juga
sangat mempengaruhi seseorang untuk berperilaku merokok.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007), yang
menyatakan bahwa evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu
berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunkan kriteria yang ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita lihat sesuai
dengan tingkatan- tingkatan diatas.
Hasil penelitian
ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhasanah (2010). Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan siswa
setelah diberikannya penyuluhan terhadap
siswa di SMP Budi Utama dalam judul Hubungan
antara pengetahuan, sikap dan peran guru terhadap prilaku merokok pada
siswa SMP budi utama.
Berdasarkan hasil
penelitian terkait dan teori yang adamaka peneliti berpendapat bahwa ada
pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok. Setelah dilakuan penyuluhan ada
35 siswa yang pengetahuanya meningkat, 5 siswa yang pengetahuan nya menurun
daan 37 siswa tidak mengalami perubahan pengetahuan.Hal ini berkaitan dengan
teori Notoatmodjo (2007), yang menyatakan pengetahuan sangat penting dalam
kehidupan terutama pada remaja, tetapi perlu cara yang tepat dalam
penyampaiannya materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali terhadap suatu yang specifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau ransangan yang telah diterima.
Pada saat
penyuluhan, peneliti menjelaskan tentang rokok dan dampak pada bagian tubuh
yang disebabkan oleh rokok melalui gambar power point. Pada saat mereka
menjawab pertanyaan (pre-test) dampak-dampak apa saja yang ditimbulkan oleh
rokok banyak anak yang menjawab salah, mereka menjawab hal-hal kecil yang umum
di iklan atau dibaca di kemasan rokok. Setelah dilakukan penyulan kesehatn
tentang merokok siswa bisa menjawab dengan tepat kalau dampak-dampak rokok bisa
membahayakan tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dengan demikian
peneliti menyimpulkan bahwa metode mengunakan power point melalui gambar
tentang rokok ataupun dampak-dampak dari merokok adalah metode yang tepat untuk
melakukan penyuluhan pada siswa SMP.
6.1.2 Sikap Siswa
Hasil menujukan
bahwa sikap siswa sebelum dilakuan penyuluhan kesehatan tentang merokok
terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebnyak 44 (56,4 %) sedangkan
siswa yang mempunyai sikap yang negatif sebanyak 34 (43,6).
Sedangkan
pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok
terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebanyak 43 (55,1 %)
sedangkan siswa yang mempunyai sikap negatif sebanyak 35 (44,9 %).
Berdasarkan
hasil penelitian dengan mengunakan uji paried t-tes didapatkan bahwa rata-rata
nilai sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan 43,88 dengan std Deviation 6,160
dan rata-rata nilai pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan 45,72 dengan
std Deviation 5,711 dan selisih nilai mean 1,71 dan standar deviasi 0,368
dengan sig. (2 tailed) =0,005, ini menunjukan bahwa adanya perbedaan
nilai sikap siswa sebelum dan setelahdilakukan penyuluhan (bermakna) dari 78
siswa.
Sikap
adalah penilaian (bisa berupa pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek
(dalam hal ini adalah masalah kesehatan, termasuk penyakit). Setelah seseorang
mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya akan menilai atau bersikap
terhadap stimulus atau objek kesehatan tersebut (Notoatmojo, 2002).
Hasil
penelitian ini sesuai dengan teori Allport (1954) yang menyatakan tiga komponen
pokok sikap, yaitu Kepercayaan (keyakinan), ide dan ide dalam suatu objek;
Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek; Kecendrungan untuk
bertindak ( Tend to behave). Ketiga koponen ini secara bersama-saa membentuk sikap
yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan,
pikiran keyakinan dan emosi memegang peranan penting.
Hasil
penelitian ini sesuai dengan teori menurut Purwanto (2002) sikap dapat dibentuk
atau dirubah melalui 2 cara yaitu adopsi dan intelgensi, dimana adposi
merupakan kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang dan terus
menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri individu dan
mempengaruhi terbentuknya suatu sikap dan intelegensi merupakan pembentukan
sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang
berhubungan dengan satu hal tertentu.
Penelitian ini sependapat dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nurhasanah (2010). Hasil penelitian ini
menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan terhadap sikap siswa setelah diberikannya penyuluhan terhadap siswa di SMP
Budi Utama dalam judul Hubungan antara
pengetahuan, sikap dan peran guru terhadap prilaku merokok pada siswa SMP budi utama.
Berdasarkan hasil
penelitian terkait dan teori yang ada maka peneliti berpendapat bahwa ada
pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok terhadap sikap siswa. Setelah
dilakukan penyuluhan ada 55 siswa yang sikapnya mengalami perubahan kearah
positif, 9 siswa sikapnya menurun kearah negatif dan 14 orang tidak mengalami perubahan. Hal
ini berkaitan dengan teori Allport (1954) yang menyatakan penentuan sikap yang
utuh juga didasari oleh pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang
peranan penting.
6.2 Keterbatasan
Penelitian
Adapun
keterbatasan penelitian ini adalah :
a. Ada banyak variabel yang seharusnya dapat diteliti
akan tetapi karna keterbatasan waktu dan biaya dari peneliti, maka peneliti
hanya meneliti variabel pengetahuan dan sikap.
b. Evaluasi penelitian ini dilakukan tidak sesuai
dengan teori penyuluhan, hal ini dikarenakan keterbatasan waktu penelitian.
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh 78 responden pembahasan pada bab
sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:
7.1.1 Pengetahuan
dan Sikap Siswa Sebelum Penyuluhan (pre-test)
Siswa
yang mempunyai penegtahuan baik 31, cukup 42 dan kurang 5 siswa dan siswa yang
mempunyai sikap positif 44 dan sikap negatif 34 siswa.
7.1.2 Pengetahuan dan Sikap Siswa Sesudah
Penyuluhan ( post-test )
Siswa yang mempunyai pengetahuan baik
61, cukup 13 dan kurang 4 siswa dan siswa yang mempunyai sikap positif 43 dan sikap negatif 35 siswa.
7.1.3. Perbedaan Pengetahuan dan Sikap siswa Setelah
dan Sebelum Penyuluhan.
a. Ada perbedaan antara
pengetahuan siswa di SMP Negeri 13 Palembang sebelum dan setelah diberi
penyuluhan kesehatan dengan (p value 0,005).
b. Ada perbedaan antara sikap siswa
di SMP Negeri 13 Palembang sebelum dan setelah diberi penyuluhan kesehatan
dengan (p value 0,005).
7.2 Saran
7.2.1
Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan ada
program penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa dengan jalan
bekerjasama dengan puskesmas dalam rangka menyikapi permasalahan merokok,
seperti melalui program penyuluhan pendidikan tentang kesehatan dengan
bekerjasama dengan instansi-instansi terkait ataupun LSM yang membidangi
masalah merokok pada remaja melalui poster-poster, leaflet tentang bahaya
merokok dan melalui program lainnya seperti mengadakan ceramah agama sehingga
siswa mendapatkan pendidikan agama. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami
dan menyadari untuk tidak melakukan perilaku merokok.
7.2.2 Bagi SMP Negeri 13 Palembang
Diharapkan pihak sekolah dapat memberikan
peraturan kepada siswa untuk dilarang keluar dari lingkungan sekolah pada saat
istirahat maupun pada saat proses
belajar mengajar, hal ini dapat bertujuan mengurangi perilaku siswa merokok di
lingkungan sekolah dan diharapkan pihak institusi pendidikan dapat melakukan
kerja sama dengan pihak institusi kesehatan khususnya pihak puskesmas dalam
meningkatkan program pendidikan kesehatan
khususnya pendidikan kesehatan tentang merokok. Serta diharapkan siswa
dapat mengerti dan memahami tentang bahaya merokok serta mengurangi tingkat merokok
di kalangan siswa sekolah.
7.2.4 Rekomendasi Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan
penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk peneliti selanjutnya dengan tema
yang sama yaitu penyuluhan kesehatan tentang merokok, tetapi bahasan yang
berbeda. Misalnya membahas mengenai peranan guru terhadap prilaku siswa yang merokok.
Komentar
Posting Komentar