PROPOSAL TESIS BINA HUSADA TENTANG ADIWIYATA

   BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
             Kesehatan merupakan suatu anugerah yang diberikan Allah kepada kita,  dengan kesehatan kita bisa menikmati hidup lebih indah dan nyaman, maka dari itu kita harus menjaga kesehatan dengan sebaik-baiknya. Peran bidang kesehatan adalah bagaimana menciptakan manusia Indonesia yang sehat, fisik dan mental. Oleh karena itu, peran bidang kesehatan harus lebih dititik beratkan pada semua upaya, untuk menciptakan manusia sehat sejak usia dini (World Health Organization/ WHO, 2009).
Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpadu dari pembangunan nasional yang antara lain mempunyai tujuan untuk mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi, oleh karena itu maka pembangunan manusia seutuhnya harus mencakup berbagai aspek, yaitu aspek jasmani dan kejiwaan, disamping aspek spritual dan sosial, termasuk kepribadian yang ditunjukan untuk menunjukan manusia sehat, cerdas dan produktif (Depkes RI, 2004).
1
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti,tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan. Penyuluhan kesehatan dimulai dari masyarakat dalam keadaan seperti apa adanya yaitu pandangan mereka selama ini terhadap masalah kesehatan (Efendy, 2006).
Menurut survei (World Health Organization/ WHO) Rokok merupakan benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang kecil bentuknya itu terkandung bahaya yang sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan perokok, (World Health Organization/ WHO) pun mengingatkan bahwa rokok merupakan salah satu penyebab kematian yang paling berbahaya di dunia, (World Health Organization/ WHO) bahkan memperkirakan, tiap tahun ada 4 juta orang meninggal akibat penyakit karena merokok. Sebagian besar dari mereka meninggal di bawah usia 65 tahun. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh periferal, dan gangguan paru-paru seperti bronkhitis kronis, emfisema, asma, dan kanker paru (World Health Organization/ WHO, 2004).
Rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit tidak menular seperti jantung, gangguan pembuluh darah, stroke, kanker paru, dan kanker pada mulut. Di samping itu, rokok juga menyebabkan penurunan kesuburan, peningkatan insidens hamil diluar kandungan, pertumbuhan janin (fisik dan IQ) yang melambat, kejang pada kehamilan, gangguan imunitas bayi dan peningkatan kematian perinatal. Meningkatnya jumlah perokok di kalangan anak-anak dan kaum muda Indonesia karena dipengaruhi iklan rokok, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar yang bisa dilihat oleh masyarakat luas ( Depkes RI, 2010 ).
Merokok sudah menjadi kebiasaan yang sangat umum dan meluas di masyarakat. Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh telah diteliti dan dibuktikan banyak orang. Efek-efek yang merugikan akibat merokok pun sudah diketahui dengan jelas. Banyak penelitian membuktikan kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker osefagus, bronkhitis, tekanan darah tinggi, impotensi serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin (Sundoro, 2005).
Dari data WHO di peroleh, Indonesia sebagai negara dengan konsumsi rokok terbesar nomor 3 setelah China dan India dan diatas Rusia dan Amerika Serikat. Padahal dari jumlah penduduk, Indonesia berada di posisi ke-4 yakni setelah China, India dan Amerika Serikat. Berbeda dengan jumlah perokok Amerika yang cenderung menurun, jumlah perokok Indonesia justru bertambah dalam 9 tahun terakhir. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO) merilis data lebih dari 50% rumah tangga di Indonesia memiliki satu orang perokok di rumahnya, sehingga diperkirakan  50% masyarakat di Indonesia terpapar asap rokok  (Depkes RI, 2010).
Dari data dinas kesehatan provinsi Sumatera Selatan di dapat bahwa anak sekolah di Sumatera Selatan yang sudah pernah merokok.  Konsumsi rokok Indonesia setiap tahun mencapai 199 miliar batang. Ironisnya, 60% dari perokok Indonesia, kira-kira 84 juta orang, adalah masyarakat kelas ekonomi bawah (Dinkes Provinsi, 2010).
Perilaku masyarakat kota Palembang terhadap pengetahuan dan sikap tentang merokok belum optimal dilihat dari  kenyataan di dalam lingkungannya. Merokok merupakan kegiatan yang masih banyak dilakukan oleh banyak orang, walaupun sering ditulis di surat-surat kabar, majalah dan media masa lain yang menyatakan bahayanya merokok. Bagi pecandunya, mereka dengan bangga menghisap rokok di tempat-tempat umum, kantor, rumah, jalan-jalan, dan sebagainya, bahwa semakin tinggi jumlah pelajar yang memiliki kebiasaan merokok. Penyuluhan tentang merokok adalah hal yang sangat penting untuk membangkitkan kesadaran tentang bahaya merokok dengan cara mengikut sertakan media elektronik dan non elektronik tentang bahaya merokok, kecanduan rokok, dampak sosial dan ekonomi akibat rokok pada publik terutama anak-anak, remaja serta usia produktif dewasa ini di Indonesia. Kegiatan merokok seringkali dilakukan individu dimulai di sekolah menengah pertama (Profil Dinkes Palembang, 2011).
Selain itu anak usia sekolah menengah pertama merupakan usia yang sangat rentan untuk terpengaruh perilaku menyimpang termasuk kebiasaan merokok di SMP Negeri 13 adalah salah satu sekolah yang terletak di daerah yang lingkungan yang kurang kondusif  karena terletak didekat pemukiman padat dan daerah yang sangat ramai. Dari data TU  di sekolah didapat siswa SMP Negeri 13 berjumlah 993 siswa, dengan kelas VII berjumlah 400 siswa 183 laki-laki dan 217 perempuan, kelas VIII berjumlah 319 siswa 152 laki-laki dan 165 perempuan dan  kelas IX berjumlah 129 siswa  laki-laki dan perempuan 147 siswa (Data TU SMPN 13, 2012).
Berdasarkan hasil pengamatan kepala sekolah SMP Negeri 13 selama 1 tahun terakhir dtemukan beberapa siswanya yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah dan telah diberikan sanksi tapi masih ada juga siswa yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah,  sehingga sekolah menerapkan slogan  “Kawasan Tanpa Asap Rokok” dengan harapkan tidak ada lagi siswa yang merokok di kawasan sekolah SMP Negeri 13 Palembang  (Kepsek, 2012).
Berdasarkan pernyataan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh penyuluhan tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012”.

1.2   Rumusan Masalah
 Berdasarkan penjelasan diatas peneliti tertarik melakukan penelitian tentang pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok terhadap  pada remaja usia 12-15 tahun  di SMP Negeri 13 Palembang.

1.3  Pertanyaan Penelitian
      Adakah pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13  Palembang ?


1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1. Tujuan Umum
       Diketahui pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13  Palembang
1.4.2. Tujuan Khusus
1. Ada pengaruh tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan tentang merokok pada siswa SMP Negeri 13 Palembang.
2.Ada pengaruh sikap siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan tentang merokok pada siswa SMP Negeri 13 Palembang.

1.5  Manfaat Penelitian
1.5.1.   Bagi Peneliti
        Sebagai pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan penelitian sesuai ilmu yang di dapat selama mengikuti pendidikan akademi di STIK Bina Husada  serta sebagai sumber  informasi tentang merokok pada remaj terhadap pengetahuan dan sikap siswa di SMP Negeri 13 Palembang.
 1.5.2  Bagi Institusi Pendidikan
                    Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi untuk peneliti selanjutnya, serta dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan.

  1.5.3.   Bagi Tempat Penelitian
                      Dapat dijadikan masukan informasi sebagai bahan untuk perencanaan kerja selanjutnya khususnya bahaya merokok agar terciptanya peningkatan kesehatan pada siswa SMP Negeri 13 Palembang.

1.6.  Ruang Lingkup Penelitian
Pada penelitian ini termasuk area mata kuliah komunitas. Sasaran obyek adalah siswa yang pernah merokok.         Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang dilakukan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap siswa terhadap bahaya merokok setelah dan sebelum dilakukan penyuluhan (pre-test dan post-test) di SMP Negeri 13 Palembang. Sasaran penelitian ini  dilaksanakan bulan April tahun 2012.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Penyuluhan Kesehatan
2.1.1        Definisi Penyuluhan
            Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (WHO, 2009).
         Penyuluhan kesehatan merokok di sekolah merupakan kegiatan pendidikan bagi masyarakat sekolah dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan yang bertujuan mengubah prilaku mereka dari yang kurang mengetahui tentang bahaya merokok menjadi tahu tentang bahaya merokok. Melalui kegiatan ini dihrapkan mereka menjadi tahu, mau dan  mampu  memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi, baik secara sendiri maupun bersama guna terus meningkatkan pengetahuan tentang bahaya merokok untuk kesehatan tubuh sehingga mampu mengurangi  prilaku merokok di masyarakat (Astuti, 2006).
8
8

 


2.1.2        Tujuan Penyuluhan Kesehatan Merokok
       Tujuan pendidikan (penyuluhan) merokok di sekolah adalah (Effendy, 1998). :
1.      Meningkatkan pengertian dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dari merokok.
2.       Menghilangkan atau sedikit mengurangi penyakit yang disebabkan oleh merokok.
 2.1.3  Metode Penyuluhan
                Metode yang dapat dipergunakan dalam yang memberikan penyuluhan              kesehatan ada dalam (Notoatmodjo, 2002) :
1)      Metode Ceramah
Adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok sasaran sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan.
2)      Metode diskusi kelompok
Adalah pembicaraan yang direncanakan dan telah dipersiapkan tentang suatu topik pembicaraan diantara 5-20 peserta (sasaran) dengan seseorang pemimpin diskusi yang telah ditunjuk.
3)      Metode Curah pendapat
Adalah suatu bentuk pemecahan masalah dimana setiap anggota mengusulkan semua kemungkinan pemecahan yang terpikirkan pleh masing-masing peserta dan evaluasi atas pendapat-pendapat tadi dilakukan kemudian.
4)      Metode Panel
Adalah pembicaraan yang telah direncanakan di depan pengunjung atau peserta tentang sebuah topik, diperlukan 3 orang atau lebih panelis dengan seseorang pemimpin.
5)      Metode Bermain Peran
Adalah memerankan sebuah situasi dalam kehidupan manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh kelompok.
6)      Metode Demonstrasi
Adalah suatu cara untuk menunjukan pengertian, ide dan prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan, adegan dengan menggunakan alat peraga. Metode ini digunakan terhadap kelompok yang terlalu besar jumlahnya.
7)      Metode Simposium
Adalah serangkaian cermah yang diberikan oleh 2-5 orang dengan topik yang berlebihan tetapi saling berhubungan erat.
8)      Metode Seminar adalah suatu cara dimana sekelompok orang berkumpul untuk membahas suatu masalah dibawah bimbingan seseorang ahli yang menguasai bidangnya.
2.1.4        Langkah-langkah Merencanakan Penyuluhan
                    Langkah-langkah dalam perencanaan dalam (Machfoedz, 2007) adalah :
 a. Mengenal masalah, masyarakat, dan wilayah
 b. Menentukan prioritas
 c. Menentukan sasaran penyuluhan
 d. Menentukan tujan penyuluahan
 e. Menentukan isi penyuluhan
 f. Metode penyuluhan
 g. Sasaran penyuluhan
 h. Menyusun rencana penilaianya
 i. Menyusun rencana kerja/rencana pelaksanaannya.

2.2   Merokok
2.2.1        Definisi Merokok
            Merokok adalah kegiatan menghisap gulungan kertas yang berisi daun-daun tembakau (WHO, 2009).
2.2.2        Defenisi Rokok
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya (WHO,2009).
2.2.2  Sejarah Rokok
Kata tembakau berasal dari bahasa spanyol tabaca. Tembakau ini pertama
kali diperkenalkan oleh bangsa Indian kepada bangsa kulit putih melalui Christopher Colombus sebagai tanda persahabatan. Lalu Christopher Columbus membawa pulang sejumlah biji tembakau ke Eropa dimana tembakau diberi nama latin Nicotina dan selanjutnya diperkenalkan tembakau ke prancis. Pada tahun 1600-an orang-orang Spanyol dan beberapa orang Eropa mulai merokok linting. Awal mula perkenalan dunia pada tembakau dan kebiasaan merokok oleh para pelaut spanyol dibawah pimpinan Chistopher Columbus (1451-1506) pada tahun 1492. setelah melakukan serangkaian pendaratan di berbagai pulau di benua itu, pada 2 November 1492 rombongan Columbus mendarat dipulau Waitling dan mereka melihat sebuah perahu lesung orang Indian yang berisi daun kering yang dikenal tembakau.
Kontroversi pemakaian tembakau dimuali tahun 1500-an dimana diumumkan sebaiknya pengguna tembakau untuk keperluan pengobatan saja. Pada sekitar tahun 1960-an ilmuan sepakat bahwa rokok dapat meningkatkan resiko kanker paru, penyebab jantung, dan banyak penyakit lainnya. Secara global, konsumsi rokok membunuh satu orang setiap 10 detik. WHO memperkirakan pada tahun 2020 penyakit berkaitan dengan rokok akan menjadi masalah kesehatan utama di banyak negara. Kebiasaan merokok dianggap menjadi enty point pada penyalahgunaan narkotik dan bahan berbahaya lainnya. Sejak abad XVII, Penanaman tembakau ini mulai dikembangkan di koloni Inggris. Para imigran Inggris membawa bibit-bibit tembakau tersebut dari Amerika Serikat dan ditanam di perkebunan-perkebunan Maryland di Virginia, USA. Pada waktu berkobarnya Revolusi Amerika, ekspor tembakau ini mencapai 100 juta Pond Sterling. Pada abad yang sama, penanaman dan pemakaian tembakau ini mulai menyebar ke sulur dunia diantaranya : India, Persia, Filipina, Indonesia, dll (Elizabeth, 2010).

2.3   Kandungan Rokok
Ada sekitar  4.000 zat kimia dan racun mematikan yang terdapat di dalam satu batang rokok yang diantaranya adalah Nikotin, Tar, Amonia, Formic Acid, hydrogen Cyanide, Phenol, Methanol, dan zat-zat beracun lainnya.
            a.   Nikotin
Nikotin merupakan zat kimia parangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah. Selain itu, nikotin dapat membuat pemakainya kecanduan. Nikotin merupakan zat adiktif dalam tembakau. Nikotin dengan cepat masuk ke otak begitu anda merokok. Nikotin adalah racun. 30mg nikotin menyebabkam kematian, hanya sebagian yang diabsorbsi oleh perokok. Setiap rokok rata-rata mengandung 0,1-1,2mg nikotin.
Nikotinlah yang menyebabkan ketergantungan. Nikotin menstimulasi otak untuk terus menambah jumlah nikotin yang dibutuhkan. Semakin lama, nikotin dapat melumpuhkan otak dan rasa, serta meningkatkan adrenalin, yang menyebabkan jantung diberi peringatan atas reaksi hormonal yang membuatnya berdebar lebih cepat dan bekerja lebih keras. Artinya jantung membutuhkan lebih banyak oksigen agar dapat terus memompa. Nikotin juga menyebabkan pembekuan darah lebih cepat dan meningkatkan resiko serangan jantung. 25% nikotin yang ada dalam sebatang rokok yang terhisap pada saat kita merokok akan masuk kedalam peredaran darah dan hanya perlu waktu 15 detik saja untuk masuk ke otak. Akibatnya adalah kekurangan oksigen di seluruh tubuh dan juga mengalami penyempitan pembuluh darah yang bisa menyebabkan stroke. Kadar nikotin 4-6 mg yang diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang ketagihan.
Nikotin mempunyai efek mengurangi nafsu makan dengan merintangi kontraksi lambung dan menyebabkan aliran darah akan lebih cepat dan tekanan darah akan naik.  Merokok bisa menekan nafsu makan, bahkan bisa membantu mereka yang ingin menurunkan berat badan tanpa bantuan obat-obat pelangsing, hal ini bisa jadi karena keasyikkan kita merokok, yang membuat kita malas manambah asupan makanan untuk tubuh kita.
b.                Tar
Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok dan bersifat karsinogen. Rokok mengandung zat berbahaya, tar yang merusak sel paru-paru dan menyebabkan sakit kanker. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Pengedapan ini bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-45 mg. zat ini mampu menimbulkan sel kanker. Ampas dari asap rokok yang terhisap akan mampu menempel di paru-paru. Lama-kelamaan 20-30 tahun kemudian zat ini akan mengubah sel epitel bronkus normal di paru-paru menjadi sel kanker ganas. Tar digunakan untuk melapisi jalan atau aspal.
c.   Ammonia
Ammonia adalah gas yang tidak berwarna yang berisi nitrogen dan hydrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Ammonia ini sangat gampang memasuki sel-sel tubuh. Begitu kerasnya racun yang terdapat pada ammonia itu, sehingga kalau disuntikkan pada peredaran darah akan mengakibatkan seseorang itu pingsan atau koma, Dan salah satu bahan untuk pembersih lantai.
d.   Formic Acid
Formic Acid adalah sejenis cairan tidak bewarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang merasa seperti digigit semut. Bertambahnya Acid apapun di peredaran darah akan menambah cepatnya pernapasan seseorang.
e.   Hydrogen Cyanid
Hydrogen Cyanid adalah sejenis gas yang tidak bewarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Zat ini merupakan zat paling ringan serta gampang terbakar. Zat ini sangat efisein untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya.
f.   Methanol
Methanol  adalah sejenis cairan ringan yang gampang manguap, dan mudah terbakar. Cairan ini dapat diperoleh dengan penyulingan bahan kayu atau dari sintesis karbon monoksida dan hydrogen. Meminum atau menghisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan bahkan kematian.
g.    Zat berbahaya lainnya
Naftalen (kapur barus), Butan (bahan untuk korek api), Cadnium (bahan aki mobil), Vinil Klorida (bahan Plastik), DDT (bahan racun serangga), Arsenik (racun semut putih), Aseton ( bahan penghapus cat), Benzen, Radon, Toulen. Semua zat ini ada dalam setiap satu batang rokok yang dihisap ( Elizabeth, 2010).        
                  `
Gambar 2.3 Kandungan Rokok

2.4 Mengapa Merokok ?
            Ketika kita melakukan sesuatu tentu ada sebabnya, entah itu karena ketertarikan maupun suatu kebiasaan. Demikian halnya dengan merokok. Merokok juga merupakan suatu kebiasaan yang tidak hanya dilakukan begitu saja. Meskipun perlahan mengalir seperti air, namun selalu saja ada alasan untuk merokok. Tidak hanya bagi mereka yang sebelumnya sudah merokok, kemudian merokok kembali, ataupun bagi mereka yang sebelumnya belum pernah mencoba merokok pun menjadi tertarik untuk mencobanya. Menurut Sarafino,(dalam Elizabeth, 2010) faktor-faktor yang menpengaruhi perilaku merokok ada tiga, yaitu faktor sosial, psikologi, dan genetik ( Elizabeth, 2010).
            2.4.1  Faktor sosial
            Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu ada saling ketergantungan atau tidak bisa hidup sendiri. Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau memiliki dorongan sosial. Dengan adanya dorongan sosial tersebut, manusia akan mencari orang untuk melakukan interaksi. Faktor terbesar dari kebiasaan merokok adalah faktor sosial atau lingkungan. Terkait itu, kita tentu telah mengetahui bahwa karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar, baik keluarga, tetangga, bahkan sesama teman. Bersosialisasi merupakan cara utama untuk mencari jati diri mereka. Hal ini sebagai suatu proses yang terjadi pada remaja untuk mencari jati diri dan belajar menjalani hidup.  Namun sangat disayangkan karena tidak hanya kebiasaan-kebiasaan yang baik saja yang ditiru, melainkan juga kebiasaan-kebiasaan buruk, termasuk kebiasaan  merokok. Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak  remaja merokok, semakin besar juga kemungkinan teman-temannya sebagai perokok. Selain itu, lingkungan keluarga juga mempengaruhi seseorang untuk berprilaku merokok ( Elizabeth, 2010).
            2.4.2   Faktor Psikologis
            Ada beberapa alasan psikologis yang menyebabkan seseorang merokok,  yakni demi relaksasi atau ketenangan, serta mengurangi kecemasan atau ketegangan. Pada kebanyakan perokok, ikatan psikologis dengan rokok dikarenakan adanya kebutuhan untuk mengatasi diri sendiri secara mudah dan efektif. Mengenali alasan atau penyebab merokok, seperti :
1)      Gejala Ketagihan
a.       Adanya rasa ingin merokok yang menggebu
b.      Merasa tidak bisa hidup selama setengah hari tanpa rokok
c.       Merasa tidak tahan bila kehabisan rokok
d.      Gelisah, susah konsentrasi, sulit tidur, lelah, dan pusing
2)      Kebutuhan Mental
a.       Merokok merupakan hal yang paling nikmat dalam kehidupan
b.      Merasa lebih rileks dengan merokok
c.       Merasa lebih berkonsentrasi sewaktu bekerja dengan merokok
3)      Kebiasaan
a.       Merasa kehilangan benda yang bisa dimainkan ditangan
b.      Kebiasaan merokok sesudah makan
c.       Menikmati rokok sambil minum kopi
            2.4.3  Faktor Genetik
            Dapat menjadikan seseorang tergantung pada rokok. Faktor genetik atau biologis ini dipengaruhi juga oleh faktor-faktor yang lain, seperti faktor sosial dan psikologi. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan seseorang merokok adalah pengauh iklan. Melihat iklan dimedia massa dan elektronik yang membuat remaja seringkali terpicu untuk meniru perilaku dalam iklan tersebut ( Elizabeth, 2010).

2.5    Bahaya Rokok bagi Kesehatan
      Semua zat ini mengakibatkan gangguan jantung dan sirkulasi darah, kanker paru-paru dan organ lainnya, bronkhitis kronik. Efek jangka pendek adalah meningkatnya debar jantung, menurunnya suhu kulit, dan  Rongga mulut sangat mudah terpapar efek yang merugikan akibat merokok. Tejadinya perubahan dalam rongga mulut sangat masuk diakal karena mulut merupakan awal terjadinya penyerapan zat-zat hasil pembakaran rokok.
            Temperatur rokok pada bibir adalah 30 derajat C, sedangkan ujung rokok yang terbakar bersuhu 900 derajat C.  Asap panas yang berhembus terus menerus ke dalam rongga mulut merupakan rangsangan panas yang menyebabkan perubahan aliran darah dan mengurangi pengeluaran ludah. Akibatnya rongga mulut menjadi kering dan lebih an-aerob (suasana bebas zat asam) sehingga memberikan lingkungan yang sesuai untuk tumbuhnya bakteri an-aerob dalam plak.
            Dengan sendirinya perokok berisiko lebih besar terinfeksi bakteri penyebab penyakit jaringan pendukung gigi dibandingkan mereka yang tidak merokok.  Meningkatnya kecepatan nafas,  juga dapat menyebabkan diare dan muntah. Meski secara nyata merokok meningkatkan debar jantung, para perokok mengatakan mereka merasa santai. Efek jangka panjang menyerang sistem bronkhopulmoner dan kardiovaskular. Kebiasaan merokok telah terbukti memiliki kaitan dengan penyakit dari berbagai alat tubuh manusia. Akibatnya merokok yang mungkin sudah sangat diketahui adalah merusak paru-paru, kanker, bronkhitis dan penyakit-penyaikit lainnya, dibawah ini akan di paparkan lebih lanjut beberapa pengaruh rokok bagi kesehatan            ( Elizabeth, 2010).
a.  Pengaruh Rokok Pada Paru-paru
      Merokok dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Pada saluran napas besar, sel mukosa membesar (hipertofi) dan kelenjar mucus bertambah banyak. Pada saluran napas kecil, terjadi peningkatan terjadi radang ringan hingga penyempitan akibat bertambahnya sel dan penumpukan lendir. Pada jaringan paru-paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang dan kerusakan alveoli.
      Akibat perubahan anatomi saluran napas, pada perokok akan timbul perubahan  pada fungsi paru-paru dengan segala macam gejala klinisnya.     Penelitian di Indonesia maupun didunia telah membuktikan bahwa sebagian besar (80%) kanker paru-paru disebabkan oleh kebiasaan merokok. Dan inilah salah satu jenis kanker yang paling sering ditemukan pada laki-laki. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker paru-paru pada perokok adalah jumlah batang rokok yang dihisap setiap harinya, usia perokok ketika mulai terbiasa merokok, lamanya kebiasaan merokok, intensitas menghisap rokok dan kadar tar dalam rokok.
      Menurut hasil penelitian mereka yang mulai merokok pada usia yang kurang dari 15 tahun mempunyai resiko menderita kanker paru 20 kali lebih tinggi dari pada yang tidak merokok. Dan kemungkinan terjadi kanker paru adalah setelah orang kecanduan rokok selama 15 sampai 20 tahun keatas, perokok aktif maupun perokok pasif.
b.  Pengaruh Rokok Terhadap Jantung
      Nikotin mengganggu sistem saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen miokard. Selain menyebabkan ketagiahan merokok, nikotin juga merangsang pelepasan andrenalin, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak dan banyak bagian tubuh lainnya.
      Karbon monoksida menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan tempat oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen dan  mempercepat aterosklerosis ( pengapuran/penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, CO menurunkan kapasitas latihan fisik, mengikat darah, sehingga mempermudah pengumpalan darah.


c.   Pengaruh Rokok Pada Otak
      Penelitian menunjukkan orang dengan kebiasaan merokok atau cerutu, menderita 10% kemerosotan efisiensi mental setelah merokok dan ini menimbulkan sikap ragu-ragu, tidak tahu mengambil keputusan dan kurang pengendalian diri, sehingga mengurangi waktu dan prestasi kerja.
      Merokok dapat mempengaruhi dan melemahnya saraf otak. Otak tersusun dari jenis jaringan saraf yang sama dengan mata. Dengan demikian,  jika nikotin dapat melumpuhkan saraf penglihatan ia dapat pula berpengaruh pada otak.
d.   Pengaruh Rokok Pada Telinga, Hidung, dan Tenggorokan
      Asap rokok menimbulkan iritasi pada saluruan eustasius, yaitu saluran yang menghubungkan hidung, telinga dan tenggorokkan. Merokok akan mengakibatkan rangsangan pada tenggorokkan, karena zat-zat akan menyerang selaput-selaput halus pada saluran parnapasan. Zat ini akan dipindahkan kedalam cabang-cabang tenggorokan dan paru-paru dengan perantara asap, dan sesudah itu akan disimpan pada selaput lendir pembuluh-pembuluh ini sehingga menyebabkan hambatan pada saluran udara dalam paru-paru dan menyebabkan orang lebih sukar bernapas.
e.   Pengaruh Rokok Pada Kulit
      Nikotin dapat mengerutkan pembuluh darah di bagian wajah dan leher. Jika pembuluh darah mengerut, ini berarti jaringan kulit tersebut mengalami kekurangan zat makan, sehingga warnanya akan pucat. Biasanya proses ini akan diikuti oleh keriput sekitar wajah.
f.   Pengaruh Rokok Pada Kesehatan Perempuan
      Pada wanita hamil merokok dapat menyebabkan gangguan pada kehamilan, baik kesehatan ibu maupun kondisi perkembangan janin. Merokok juga meninggkatkan resiko terjadinya abortus, lahir prematur, berat badan lahir rendah, gangguan pernapasan janin, cacat bawaan (Congenital), dan janin yang kecil akibat kekurangan oksigen (hipoksia). Akibatnya perkembangan organ-organ janin terganggu baik fisik maupun mental, sehingga dapat terjadi cacat congenital, perkembangan organ yang tidak sempurna.
      Untuk ibu-ibu, merokok juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan secara umum, mulai hipertensi, keracunan kehamilan (eklamsia) yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan kematian. Selain itu juga dapat menyebabkan pendarahan pada saat kehamilan dan kelahiran                     ( Depkes RI, 2010 ).

2.6      Dampak Merokok Terhadap Kemungkinan Terjadinya Penyakit
Adapun dampak yang ditimbulkan oleh rokok antara lain :
            1. Dampak Rokok Pada Diri Perokok Pasif
            Perokok pasif mempunyai resiko yang sama dengan perokok aktif karena perokok pasif juga menghirup kandungan karsinogen ( zat yang memudahkan timbulnya kanker yang ada dalam asap rokok), sebagaimana yang dihirup oleh perokok aktif.
               Penelitian dalam 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa menghirup asap rokok, orang lain sangat membahayakan. Asap rokok menimbulkan bau yang tidak sedap, mencekik, mengiritasi hidung dan mata. Bayi yang belum lahir berada dalam resiko, anak-anak yang orang tuanya merokok, dan orang dewasa yang bukan perokok. Meskipun resiko orang bukan  perokok tidak sebesar perokok, tetapi jenis penyakit dan kelainan yang timbul ternyata hampir sama, yaitu antara lain kanker, penyakit jantung dan stroke, dan gangguan pernapasan seperti asma, mudah meng alami alergi, dan gampang terkena TBC paru-paru ( Ellizabet, 2010).
2.         Dampak Rokok Pada Diri Perokok Aktif
            a. Rambut bau dan kotor
            b. Efek terhadap otak dan kejiwaan, stroke, ketagihan dan kecemasan
            c. Mata berair, kebutaan dan katarak
            d. Penurunan indera penciuman dan mudah flu
e. Merusak dan mengotori gigi, kanker mulut, tenggorokan, laring, dan bau mulut
f.  Kulit keriput dan cepat rusak
            g. Kanker esophagus
h. Gangguan sirkulasi darah di lengan hingga tangan
i. Kanker paru (90%), Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau PPOK (75%),asma,emfisema
j. Penyumbatan arteri jantung ( jantung ischemia-25%), serangan jantung
k. Kanker hati
l. Kanker darah ( Leukemia) dan gangguan ginjal
m. Radang usus, kanker usus, dan pankreas
n. Osteoporosis, patah tulang punggung, patah tulang pinggul
o. Sakit menstruasi, menopause dini ( Ellizabet, 2010).
        Secara umum bahaya menghisap rokok dapat dilihat berdasarkan tinjauan kesehatan. Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan.

2.7   Tahap Perkembangan Anak
2.7.1    Tumbuh Kembang Anak
a.       Definisi Tumbuh Kembang Anak
Pertumbuhan merupakan bertambah jumlah dan besarnya sel di seluruh bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur, sedangkan perkembangan merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melaui tumbuh kematangan dan belajar ( Wong, 2000 dalam Aziz 2008).
Istilah tumbuh kembang mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
1.            Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bias diukur dengan ukuran berat (gram, Pound, kilogram,), ukuran panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan metabolic ( retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
2.            Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan atau  (skill ) dalam sturktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Hal ini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel- sel tubuh, jaringan tubuh, organ- organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya (Utin Humairoh, 2010).
Peristiwa pertumbuhan dan perkembanagan secara fisik dapat terjadi dalam perubahan ukuran besar kecilnya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga perubahan organ tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan secara intelektual anak dapat dilihat dari kemampuan secara symbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung, membaca, dan lain-lain, sedangkan perkembangan secara emosional anak dapat dilihat dari perilaku sosial di lingkungan anak  (Aziz, 2005).
b.      Pola Pertumbuhan dan perkembanga Anak
Perkembangan pada anak baik terjadi percepatan maupun perlambatan yang saling berhubungan antara satu organ dengan organ lain. Dalam peristiwa tersebut dapat mengalami beberapa pola pertumbuhan dan perkembangan anak, diantaranya :
1.      Pola pertumbuhan fisik yang terarah
Pada pola ini terdapat dua prinsip atau hukum perkembangan yaitu prinsip cephalo-caudal dan prinsip proximodistal. Pertama, Cephalocaudal atau head to tail direction( dari arah kepala kemudian ke kaki). Pola pertumbuhan dan perkembanagan ini di mulai dari kepala yang di tandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih besar, kemudian perkembangan kemampuan untuk menggerakkan lebih cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan kebagian ekstremitas bawah lengan, tangan, dan kaki.
Kedua, proximal distal atau near to far direction. Pola ini dimulai dari menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat atau sumbu tengah kemudian baru menggerakkan anggota gerak yang lebih jauh atau kearah bagian tepi, seperti menggerakkan bahu dahulu kemudian baru jari-jari.
2.      Pola perkembangan dari umum ke khusus
Pola ini dikenal dengan nama pola mass to specific atau to complex, pola pertumbuhan dan perkembangan ini dapat dimulai dengan menggerakkan daerah yang lebih umum ( sederhana ) dahulu baru kemudian daerah yang lebih kompleks (khusus), seperti melambaikan tangan kemudian baru memainkan jarinya.
3.      Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan
Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan, yang dapat digunakan untuk mendeteksi perkembangan selanjutnya. Pada pola ini tahapan perkembanga dibagi menjadi lima bagian yang memiliki ciri khusus dalam setiap perkembangan diantaranya :
a.       Masa pra lahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat pada alat dan jaringan tubuh.
b.      Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan diluar rahim dan hampir sedikit aspek pertumbuhan fisik dalm perubahan.
c.       Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhi dan memiliki kemampuan untuk melindungi dan memghindari dari hal yang mengancam dirinya.
d.      Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat, sikap, minat, dan cara penyesuaian dengan lingkungan dalam hal ini keluarga dan teman sebaya.
e.       Masa remaja akan terjadi perubahan kearah dewasa sehingga kematangan pada tanda – tanda pubertas.
4.      Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan ( belajar)
Proses kematangan dan belajar pada pola ini selalu mempengaruhi perubahan dalam perkembangan anak, antar kematangan dan proses belajar terjadi interaksi yang kuat dalam mempengaruhi perkembangan anak. Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu dari luar untuk mencapai proses kematangan kemudian kematangan yang dicapainya dapat disempurnakan melalui rangsangan yang tepat.
( Aziz, 2005).
c.                   Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
1.      Faktor Herediter  
Faktor Herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak disamping faktor lain. Yang termasuk faktor herediter adalah bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa.
Faktor ini dapat ditentukan dengan intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur , tingkat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2.      Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai dan tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Yang termasuk faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal, lingkungan yang masih dalam kandungan dan lingkungan post natal yaitu lingkungan setelah bayi lahir ( Aziz, 2008).



d.      Tahapan perkembangan psikoseksual
Masalah perkembangan seksual dibawah ini merupakan perkembangan seksual normal yang terdiri dari tahapan – tahapan sebagai berikut :
1.                  Masa  kanak- kanak ( 0- 18 bulan)
2.                  Masa kanak- kanak awal ( 18 bulan- 5 tahun)
3.                  Masa kanak- kanak akhir ( 5-12 tahun)
4.                  Masa remaja awal ( 12- 15 tahun)
5.                  Masa remaja akhir ( 16-18 tahun)
6.                  Masa muda(18-23 tahun)
7.                  Masa dewasa muda ( 23-30 tahun)
8.                  Masa dewasa tengah( 31- 36 tahun)
9.                  Masa dewasa akhir ( 46- 40 tahun)
10.              Masa tua ( 60 tahun keatas)
( Yulita Nopriani, 2010).
2.7.2    Tahap pertumbuhan dan perkembangan
Tumbuh kembang pada masa anak sudah mulai sejak dalam kandungan sampai usia 18 tahun. Hal ini sesuai dengan pengertian anak menurut WHO, yaitu sejak terjadinya konsepsi sampai usia 18 tahun.
Ada beberapa tahapan dalam pertumbuhan dan perkembnagan pada masa kakan-kanak menurut Soetjiningsih (2002), tahapan tersebut adalah sebagai berikut :


1.            Masa prenatal ( konsepsi-lahir) terbagi atas :
a.             Masa Embrio (mudigah) : Masa konsepsi sampai 8 minggu
b.            Masa janin (fetus) : 9 minggu sampai kelahiran
2.            Masa pascanatal, terbagi atas :
a.             Masa neonatal usia 0-28 hari
Neonatus dini (perinatal) : 0-7 hari
b.            Neonatus lanjut : 8-28 hari
Masa bayi :
·               Masa bayi dini : 1-12 bulan
·               Masa bayi akhir :1-2 tahun
3.            Masa prasekolah usia 2-6 tahun terbagi atas :
a.             prasekolah awal (masa balita) : mulai 2-3 tahun
b.            prasekolah akhir : 4-6 tahun
4.            Masa sekolah atau masa pubertas terbagi atas :
a.             Wanita : 6-10 yahun
b.            Laki-laki : 8-12 tahun
5.            Masa adolesensi atau masa remaja, terbagi atas :
a.             Wanita : 10-18 tahun
b.            Laki-laki : 12-20 tahun
Berikut ini akan dibahas secara umum pencapaian tumbuh dan kembang secara normal pada masa prenatal,neonatal, bayi, balita, dan prasekolah :
1.   Masa prenatal
            Kehidupan bayi pada masa prenatal dikelompokkan menjadi dua periode yaitu:
           -      Masa embrio yang dimulai sejak konsepsi sampai kehamilan delapan     minggu
      -     Masa fetus yang dimulai sejak kehamilan 9 minggu sampai kelahiran

1.      Masa neonatal
            Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan, perubahan, sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya organ-organ tubuh.
2.      Masa bayi
Pada masa bayi, pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara cepat.
3.      Masa balita (1-3 tahun)
Pada masa ini, pertumbuhan fisik anak relative lebih lambat dibandingkan dengan masa bayi, tetapi perkembangan motorik berjalan lebih cepat.
4.   Masa pra sekolah akhir (3-5 tahun)
Pertumbuhan gigi susu sudah lengkap pada masa ini, petumbuhan fisik juga relative pelan, naik turun tangga sudah dapat dilakukan sendiri.
5.   Masa kanak-kanak
            Pada masa kanak-kanak terjadi 2 masa yang dialami oleh seorang anak yaitu :
a.             Awal masa kanak-kanak yang berlangsung dari usia 2-6 tahun
b.            Akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari usia 6-13 tahun
7.   Masa pubertas
            Masa pubertas merupakan periode yang singkat yang bertumpang tindih dengan masa akhir kanak-kanak dan permulaan masa remaja.
8.   Masa remaja
            Masa remaja merupakan masa yang penting dalam rentang kehidupan dimasa yang mengalami suatu periode peralihan, usia bermasalahan dan saat dimana individu mencari identitas ( jati diri) menuju masa dewasa.
9.   Masa dewasa
Masa dewasa yaitu periode yang paling panjang dalam masa kehidupan, umumnya dibagi atas tiga periode yaitu masa dewasa dini, dari umur delapan belas hingga lebih kurang empat puluh tahun, masa dewasa pertengahan atau “setengah umur” dari empat puluh tahun dan memasuki  masa dewasa akhir atau “usia lanjut” dari enam puluh tahun hingga meninggal.
 ( Yulita Nopriani, 2010).
2.7.3 Fase perkembangan berikut merupakan masa perkembangan menurut Charlate  Buhler, yaitu sebagai berikut :
      1. Fase pertama ( 0-1 tahun)
      Masa menghayati objek-objek diluar diri sendiri dan saat melatih fungsi-fungsi terutama fungsi motorik, yaitu fungsi yang berkaitan dengan gerakan –gerakan dari badan dan anggota badan.
      2. Fase kedua( 2-4 tahun)
      Masa pengenalan dunia objektif diluar diri sendiri, dipenghayatan subjektif. Mulai ada pengenalan pada aku sendiri dengan bantuan bahasa dan kemauan sendiri. Fase ini disebut juga sebagai fase bermain.
      3. Fase ketiga (5-8 tahun)
      Masa sosialisasi anak, pada masa anak mulai memasuki masyarakat luas. Misalnya taman kanak-kanak, pergaulan dengan kawan-kawan sepermainan. Anak mulai belajar mengenal dunia sekitar secara objektif.
      4. Fase keempat (9-11 tahun)
      Masa sekolah rendah, pada periode ini anak mencapai objektivitas tertinggi. Masa menyelidiki, kegiatan mencoba bereksperimen, karena adanya dorongan-dorongan meneliti dan rasa ingin tahu yang besar.
      5.Fase kelima (13-15 tahun)
      Masa tercapainya sintese antara sikap kedalam batin sendiri dengan sikap keluar kepada dunia objektif.
      ( Yulita Nopriani,2010).
2.7.4    Cara Deteksi Tumbuh Kembang Anak
1.   Penilaian Pertumbuhan Anak
            Dalam penilaian pertumbuhan terhadap anak terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi tumbuh kembang pada anak, diantaranya cara pengukuran antropometrik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan radiology.
2.   Penilaian Perkembangan Anak
            Untuk menilai perkembangan pada anak pertama yang dapat dilakukan adalah dengan wawancara tentang faktor kemungkinan yang menyebabkan gangguan dalam perkembangan, kemudian melakukan tes  skrining perkembangan anak dengan mengguanakan DDST ( Denver Development Screening Test), tes IQ, tes Psikologis, evaluasi dalam lingkungan anak yaitu interaksi anak selama ini, evaluasi fungsi penglihatan, pendengaran, bicara, bahasa serta melakukan pemeriksaan fisik lainnya seperti pemeriksaan neurologist, metabolic, dan lain-lain. ( Aziz, 2005).
2.7.5        Konsep Dasar Remaja
Definisi Remaja
Masa Remaja adalah masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Orang menyebut masa remaja sebagai masa yang paling indah, tetapi berlawanan dengan itu, orang menyebutkan juga sebagai masa yang paling rawan. Keindahan dan kerawanan ini muncul pada masa remaja terjadi sesuatu yang baru, yaitu perubahan-perubahan fisik dan psikis. Secara fisik perubahan nyata ialah pertumbuhan tulang dan perkembangan alat kelamin serta tanda-tanda seksual sekunder baik pada laki-laki maupun perempuan (Kollman, 1998).
     Remaja biasanya merupakan kelompok umur yang berada pada kurun usia 10-19 tahun atau 15-24 tahun. Definisi usia remaja memang berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Akan tetapi, di Indonesia Undang-undang No 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak menetapkan definisi anak sebagai seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun dan belum pernah kawin (Kollman, 1998).
     Ada juga yang mengatakan masa remaja atau adolescence diartikan sebagai perubahan emosi dan perubahan sosial pada masa remaja. Masa remaja biasanya terjadi sekitar dua tahun setelah masa pubertas, menggambarkan dampak perubahan fisik dan pengalaman emosi mendalam (Kollman, 1998).

2.8   Prilaku  
Menurut Notoatmodjo (2003) perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan baik yang dapat diamati langsung,maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2003) merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Skiner membedakan adanya dua respon,yaitu
1. Respondent respons
Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan –rangsangan (stimulus) tertentu.Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation karena menimbulkan respon-respon yang relative tetap.
2. Operant respons
Respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu.Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforcer, karena memperkuat respon.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini,maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua,yaitu:
1.Perilaku tertutup (covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup. Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut,dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
2. Perilaku terbuka (Overt behavior)
Dua faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku individu menurut Notoatmodjo (2003), yaitu:
1.    Faktor internal, yakni karakteristikorang yang bersangkutan,yang bersifat given atau bawaan,misalnya:tingkat kecerdasan,tingkat emosional,jenis kelamin.
2.    Faktor eksternal, yakni lingkungan,baik lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi, politik.
Proses terbentuknya perilaku tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut
Asumsi Determinan Prilaku Manusia
-          Pengalaman
-          Keyakinan
-          Fasilitas
-          Sosial Budaya
-      Pengetahuan
-      Persepsi
-      Sikap
-      Keinginan
-      Motivasi
-      Niat
 


                                                                                                            PRILAKU
                                                                                               
           
Sumber : Soekidjo Notoatmodjo, 2003.
Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi prilaku manusia kedalam 3 “Domain”, ranah, kawasan yaitu : kognitif (Cognitive), afektif (Affective), dan psikomotor (Psycomotor). Dalam perkembangan teori Bloom di modifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan keseahtan (Notoatmodjo, 2003) menjadi : 
Proses terbentuknya prilaku menurut teori Bloom dimodifikasikan Notoatdmojo (2007) yaitu:
 2.2 Diagram
-          Pengetahuan (knowledge)
-          Sikap (attitude)   
-          Tindakan (practice)
 
PRILAKU
                 
                                                              

Sumber : Soekidjo Notoatmodjo, 2007
2.8.1        Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour).Pengetahuan merupakan hasil dari tahu,dan setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Penginderaan terjadi melalui pancaindra.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Apabila suatu tindakan didasari oleh pengetahuan  dan sikap yang positif,maka tindakan tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Tapi sebaliknya,apabila tindakan tersebut itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (menurut Notoatmodjo, 2003).
a. Proses Adopsi perilaku.
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baik),di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan,yaitu :
1. Awareness (kesadaran),yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
2.  Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus.
3. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya).
4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5. Adoption, subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan,kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
b. Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif. 
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya dan termasuk ke dalam pengetahuan tingkat  ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2.Memahami.(comprehension)                                                                       Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui,dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen,tetapi masih didalam satu struktur organisasi,dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas (Notoatmodjo,2003).

2.8.2        Sikap
Notoadmojo (2003) mengemukakan bahwa sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang baik atau buruk terhadap suatu stimulus atau objek lain lebih jelasnya banwa sikap merupakan reaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu pengetahuan objek,jadi dengan adanya sikap buruk maka ada reaksi yang buruk pula terhadap objek.sikap merupakan hal yang penting,karena memiliki konsep dasar tertentu yang dipilih dan akan mempengaruhi dalam tindakan selanjutnya.
Sikap mempunyai peran yang amat penting apabila sikap sudah. Terbentuk pada diri manusia, maka sikap-sikap tersebut akan turut menentukan tingkah lakunya terhadap objek-objek,dan dengan adanya sikap akan menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap objek-objek tertentu.
Notoadmojo (2003) mendefinisikan sikap adalah sebagai suatu perasaan, keyakinan atau nilai-nilai yang berpengaruh pada bagaimana seseorang berprilaku.pada dasarnya manusia merupakan mahluk yang dapat berpikir,merasa dan bertindak.sikap dan tindakan manusia bersumber dari pengetahuan yang didapatnya melalui kegiatan merasa dan berpikir.
Pengetahuan mengenai suatu objek tidak sama dengan sikap terhadap objek tersebut.pengetahuan mengenai suatu objek baru menjadi sikap terhadap objek tersebut apabila pengetahuan disertai dengan kesiapan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan terhadap objek tersebut.
Jadi, sikap itu merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap sesuatu stimulus atau objek.dari batasan diatas dapat di simpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat,tetapi hanya dapat ditapsirkan terlebih dahulu dari prilaku tertutup.sikap secara nyata merupakan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus social. Newcomb, salah satu ahli psikososial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan terbuka.
Menurut Notoadmojo (2003), setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui ,proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau disikapinya.inilah yang disebut dengan tindakan (practice) kesehatan.
Oleh sebab itu indicator kesehatan ini mencakup hal-hal tersebut diatas,yakni :
a. Tindakan sehubungan dengan praktek.
Tindakan atau perilaku ini mencakup : Pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit.
b. Tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
Tindakan atau perilaku ini mencakup : Mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang, melakukan olahraga secara teratur, tidak merokok, tidak minum minuman keras dan narkoba.

c. Tindakan kesehatan lingkungan.
Tindakan ini mencakup : membuang air besar di jamban (wc), membuang sampah ditempat sampah,menggunakan air bersih untuk mandi,cuci,masak,dan sebagainya.
Menurut Lawrence Green (1980) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prilaku ada 3 yaitu :
1.      Faktor Predisposisi (Predisposising Factors)
Adalah faktor penentu timbulnya prilaku seperti fikiran dan motivasi untuk berprilaku yang meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan persepsi yang berhubungan dengan motivasi individu untuk berprilaku. Faktor lainnya adalah variabel demografi, seperti status sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, dan jumlah anggota keluarga.
2.    Faktor Pendukung (Enabling Faktors)
3.       Adalah faktor yang mendukung timbulnya prilaku sehingga privasi atau fikiran menjadi kenyataan.
4.       Faktor Pendorong (Reinforcing Factors)
Adalah faktor yang merupakan suatu yang sangat pentung untuk terbentuknya prilaku yang merupakan sumber yang sangat penting untuk terbentuknya prilaku yang berasal dari orang lain, yang merupakan kelompok referensi dari prilaku, seperti keluarga, teman sebaya, guru atau petugas kesehatan.


Secara lengkap kerangka teori (Green, 1980) dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Kerangka Teori Menurut Green (1980) :
Faktor Predisposisi :
-          Pengetahuan
-          Keyakinan
-          Nilai
-          Sikap
-          Variabel Demografik tertentu
Faktor pemungkin :
-          Ketersediaan sumber daya manusia
-          Keterjangkauan
-          Prioritas dan komitmen masyarakat terhadap kesehatan
Faktor Penguat :
-          Keluarga
-          Teman
-          Guru
-          Majikan
-          Petugas kesehatan

PRILAKU SPESIFIK
 

















BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL

3.1  Kerangka Konsep
            Kerangka konsep dibuat sesuai dengan masalah yang dibahas yaitu mengacu pada teori Benyamin Bloom (1908) dalam Natoatmodjo (2007), antara lain : pre-test (pengetahuan dan sikap pada siswa SMP sebelum intervensi, intervensi (penyuluhan kesehatan tentang merokok) dan post-test (pengetahuan dan sikap pada siswa SMP setelah intervensi).
Siswa SMP Negeri 13 Pelembang
Pre-test                                                 intervensi                                         post-test
                 
Pengetahuan dan sikap sebelum intervensi
(pre-test)
Penyuluhan (tindakan) kesehatan tentang merokok
Pengetahuan dan sikap setelah intervensi
(post-test)
 





Gambar 3.1 Kerangka Konsep

(Benyamin Blomm dalam Notoatmodjo, 2007)
46
 


3.2   Defenisi Operasional Variabel
No
Variabel
Defenisi
Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala
1
Pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan
Sesuatu yang diketahui responden tentang merokok
Wawancara
Kuesioner
1. Baik: Skor 76%-100%
2.Cukup:skor 56%-75%
3.kurang : 40%-55%
(Arikunto,2007)
Ordinal
2
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
Sesuatu yang diketahui responden tentang merokok

Wawancara
Kuesioner
1. Positif Jika  Score setelah penyuluhan ≥ 43,88 mean
2. Negatif jika score sebelum penyuluhan
< 43,88 mean
(Nursalam, 2003)


Ordinal
3
Pengetahuan siswa setelah  dilakukan penyuluhan
Sesuatu yang diketahui responden dalam tindakan tentang merokok

Wawancara
Kuesioner
1. Baik: Skor 76%-100%
2.Cukup:skor 56%-75%
3.kurang : 40%-55%
(Arikunto, 2007)
Ordinal

Sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan
Sesuatu yang diketahui responden dalam tindakan menjaga dan memelihara kesehatan terhadap bahaya merokok.
Wawancara
Kuesioner
1. Positif Jika  Score setelah penyuluhan ≥ 45,72 mean
2. Negatif jika score sebelum penyuluhan < 45,72 mean
(Nursalam, 2003)

48
Ordinal

3.3   Hipotesa Penelitian
  1. Ada pengaruh tingkat pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan tentang merokok
  2. Ada pengaruh sikap siswa sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan tentang merokok.










BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1         Desain Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif.  Pre-eksperimen dengan rancangan desain pre-test dan post-test group desain, di dalam desain ini dilakukan dengan cara observasi pertama (pre-test) yang memungkinkan untuk menguji perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya pendekatan dengan post-test (Arikunto, 2002).

4.2         Populasi dan Sampel Penelitian
4.2.1.  Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut. Sedangkan sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang deteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2003). Populasi yang diambil pada penelitian ini adalah seluruh siswa laki-laki yang pernah merokok dalam catatan buku bimbingan konseling (BK) selama 1 tahun terakhir di SMP Negeri 13 Palembang sejumlah 78 orang..
4.2.2        Sampel Penelitian
51
Sampel penelitian sebagian/wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002)  jika jumlah subjeknya (≥ 100) maka lebih baik semua subjeknya diteliti  sebagai penelitian merupakan penelitian populasi karena sampelnya meliputi semua subjek yang terdapat dalam populasi (Arikunto, 2002). Jenis sampel yang diambil pada penelitian ini adalah dengan  purposive sampling adalah teknik penempatan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi yang dikehendaki sebagai sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003).
4.2.3    Kriteria Penelitian
1.  Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang layak untuk dilakukan penelitian atau dijadikan responden. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:
a.    Bersedia berpartisipasi dalam penelitian.
b.    Siswa laki-laki  12-15 tahun yang pernah merokok
c.    Tercatat sebagai siswa di sekolah SMP Negeri 13 Palembang.
d.    Siswa dalam keadaan sehat atau tidak sakit.
  1. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang tidak layak dijadikan sebagai responden. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:
a.     Siswa yang tidak mau jadi responden
b.    Siswa dalam keadaan sakit yang tidak memungkinkan untuk di mengikuti penyuluhan
c.    Siswa laki-laki tidak merokok
d.    Siswa bukan siswa SMP Negeri 13 Palembang.

4.3       Pengukuran dan Pengamatan Variabel
1. Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara (koesioner). Untuk mengukur variabel pengetahuan dilakukan dengan cara memilih satu jawaban :
            Baik     : skor 76% - 100%
            Cukup  : skor 56%- 75%
            Kurang : skor ≤ 56%
            (Arikunto, 2007)
Dengan penilaian
            Jawaban benar : 1
            Jawaban salah  : 2
2. Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara (kuesioner). Untuk mengukur variabel sikap dilakukan dengan cara check list, yang dikemukakan oleh (Nursalam, 2003) :
            1.negatif jika score sebelum dan setelah penyuluhan < mean
            2. positif jika score sebelum dan setelah penyuluhan > mean
Dengan penilaian (skala Likert)


Untuk pernyataan positif
            1. Sangat Setuju                      : SS 4
            2. Setuju                                  : S 3
            3. Tidak Setuju                        : TS 2
            4. Sangat Tidak Setuju            : STS 1
Untuk pernyataan negatif
            1. Sangat Tidak Setuju            : STS 4
            2. Tidak Setuju                        : TS 3
            3. Setuju                                  : S 2
            4. Sangat Setuju                      : SS 1

4.4       Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di SMP Negeri 13 Palembang yang terletak di Jalan Gubah  No.1 Kecamatan Ilir Barat II Palembang . Waktu penelitian  ini dilakukan pada bulan April 2012.

4.5       Etika Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, responden terlebih dahulu menandatangani surat persetujuan untuk menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan.


4.6      Pengumpulan Data
4.6.1   Data Primer
        Data primer dalam penelitian ini adalah data yang tidak diperoleh langsung dari sumber data pertama atau tangan pertama dilapangan. Sumber       tekhnik pengumpulan data yaitu mengambil data dari responden melalui wawancara dengan kuesioner, observasi. Data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui koesioner  yang di sebar kepada sampel yang diminta untuk menyatakan pendapatnya yaitu seluruh siswa yang pernah merokok di SMP Negeri 13 Palembang tahun 2012.
4.6.2  Data Sekunder
                       Data Sekunder ini dalam penelitian ini adalah data yang diambil dari arsip sekolah dan data TU di SMP Negeri 13 Palembang, serta penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penyuluhan merokok.
           
4.7      Teknik Pengolahan Data
Langkah-langkah pengelolahan data adalah sebagai berikut :
1.  Editing (pengeditan)
Proses pengeditan atau penyuntingan dilakukan dengan cara memeriksa angket yang diisi oleh responden. Proses pengeditan ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam menganalisis data yang disebabkan oleh adanya data yang salah diisikan oleh responden :
a.       Lengkap          : Apakah semua pertanyaan sudah terisi jawabannya.
b.      Jelas                 : Apakah tulisan jawaban cukup jelas dan terbaca.
c.       Relevan           : Jawaban yang tertulis apakah relevan dengan
  jawabannya.
d.      Konsisten        : Apakah antara beberapa pertanyaan saling berkaitan
            2.   Coding (pengkodean)
                                  Merupakan kegiatan data yang berbentuk huruf menjadi data yang berbentuk angka yang mempermudah saat menganalisis saat mengentri data.
            3.   Entry (pemasukan data)
                       Merupakan tahap pemasukan data kedalam komputer.
            4.  Cleaning (pembersihan data)
   Merupakan kegiatan mengecek ulang data yang sudah di entri apakah ada kesalahan atau tidak.

4.8     Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian berguna untuk mempermudah peneliti menyelesaikan penelitian, apapun prosedur penelitian ini adalah sebagai berikut :
4.8.1  Tahap Pra Penelitian
Tahap ini dimulai dengan pemilihan lahan. Setelah masalah dan judul ditentukan, peneliti kemudian melaksanakan kajian kepustakaan dan mengajukan surat perizinan untuk melakukan pengambilan data awal ke tempat penelitian untuk memperkuat latar belakang dan pengumpulan data data yang diperlukan.
Selanjutnya peneliti mulai menyusun proposal dan instrumen penelitian dibawah bimbingan pembimbing. Setelah proposal disetujui oleh pembimbing proposal akan di seminarkan untuk mendapatkan saran dari penguji 1 (satu) dan penguji 2 (dua),  penyangga serta peserta seminar lainya guna perbaikan proposal penelitian.
4.8.2  Tahap Persiapan Penelitian
Setelah perbaikan hasil seminar proposal dilakukan, peneliti selanjutnya mengurus surat izin/persetujuan untuk melakukan penelitian di SMP Negeri 13 Palembang.
4.8.3  Tahap Pelaksanaan Penelitian
Setelah adanya surat izin penelitian, peneliti selanjutnya mulai melakukan penelitian, pertama-tama yang dilakukan ialah menyebarkan koesoner (pre-test) berisi tentang pertanyaan untuk pengetahuan dan sikap tentang merokok. Memberikan penyuluhan tentang merokok dan langsung melakukan pengukuran (post-test) dengan membagikan koesioner setelah penyuluhan (post-test) pada hari yang sama setelah penyuluhan kepada siswa dengan cara membagikan kuesioner tentang pengetahuan dan sikap diharapkan siswa lebih memahami tentang merokok.
4.9  Teknik Analisa Data
4.9.1  Analisis Univariat
Teknik anaisis data dengan menggunakan komputer dengan menggunakan teknik SPSS 15.0. Teknik  analisa yang digunakan untuk mengetahui adanya perubahan pengetahuan siswa SMP sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan adalah dengan melakukan analisis univariat. Pada analisis univariat semua data yang terkumpul disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, gunanya untuk mendapatkan gambaran distribusi responden atau variabel yang diteliti.
4.9.2   Analisis Bivariat
Analisis ini dilakukan dengan uji T tes paired one case,, dengan cara 2 kelompok/sampel yang respondenya sama dan diukur dua kali yaitu pre-test dan post-test. Dengan tingkat kepercayaan 95% dan α =0,05 antara pre-test dan post test serta untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan. Dengan keputusan jika p value ≤  α (0,05) maka Ho ditolak dan jika p value > α (0,05) maka Ho diterima (Arikunto, 2010).





BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1      Visi, Misi, dan Tujuan SMP Negeri 13 Palembang
1.      Visi
Visi SMP Negeri 13 Palembang adalah “ Berilmu, Berakhlak Mulia, dan Berbudaya
2.      Misi
      Misi SMP Negeri 13 Palembang adalah :
1.         Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang efektif.
2.         Memotivasi dan membantu siswa untuk mengenali potensi di dirinya sehingga dapat berkembang secara optimal.
3.         Mengembangkan pengetahuan sesuai dengan minat dan bakat siswa.
4.         Menanamkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
5.         Meningkatkan kesadaran siswa sebagai makhluk sosial dalam tatanan kehidupan bermasyarakat.
3.      Tujuan
1.         Meningkatkan nilai rata-rata ujian akhir setiap tahun pelajaran
2.         Meningkatkan jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi
3.         Meningkatkan perilaku akhlak mulia bagi peserta didik
4.         Menciptakan suasana agamis dan budi pekerti luhur dilingkungan sekolah
5.         Menanamkan rasa kesadaran siswa untuk aktif melestarikan budaya dan memelihara lingkungan.

5.1.1    Identitas Sekolah
1.      Nama Sekolah               : SMP Negeri 13 Palembang
2.      NSS                               : 201116004017
3.      NPSN                            : 10603757
4.      Alamat Sekolah             : Jl. Gubah No. 1 Palembang
5.      Didirikan Tahun            : 1979

5.1.2    Identitas Kepala Sekolah
1.      Nama Lengkap             : Heni Suryani,S.Pd, MM
2.      NIP                               : 1196305251984112001
3.      Pangkat / Golongan      : Pembina / IV / a
4.      Pendidikan Terakhir     : S 2
5.      Jurusan                          : Manajemen Pendidikan
6.      Kepala Sekolah             : 23 Januari 2006

5.1.2        Fasilitas
1.      Luas tanah                                            : 2.525 m
2.      Lapangan Upacara                                : 19 x 21 m
3.      Lapangan Olah Raga                            : 19 x 21 m
4.      Ruang teori / Kelas                               : 14     
5.      Ruang Kepala Sekolah                         : 1
6.      Ruang Tata Usaha                                : 1
7.      Ruang Wakil Kepala Sekolah               : 1
8.      Ruang Perpustakaan                             : 1
9.      Ruang Laboratorium               
a. Laboratorium Fisika                          : 1
b. Laboratorium Kimia                         : 1
c. Laboratorium Biologi                       : 1
d. Multi Media                                     : 1
10.  Ruang Komputer                                  : 1
11.  Mushollah                                             : 1
12.  Ruang OSIS                                         : 1
13.  Ruang Pramuka                                    : 1
14.  Kantin                                                   : 1
15.  WC Kepala Sekolah                             : 1
16.  WC Guru                                              : 2
17.  WC Siswa                                             : 5
18.  Komputer KBM                                   : 15
19.  Komputer kantor                                  : 4
20.  Laptop                                     
5.1.3        Keterangan
No
JENIS
L
P
Golongan
Jml
KET
Jml
IV
III
II
I
1.
Kepala Sekolah
-
1
1
1
-
-
-
1

2.
Wakil Kepala Sekolah
4
-
4
4
-
-
-
4

3.
Guru Mata Pelajaran
11
44
59
24
31
-
-
55

4.
Guru BK
1
2
3
2
1
-
-
3

5.
GTT
2
1
-
-
-
-
-
-

6.
Pegawai Tetap
3
3
6
-
5
1
-
6

7.
PTT
4
4
-
-
-
-
-
-

8.
Pustakawan
1
-
1
-
1
-
-
-

Jumlah
27
54
74
30
39
1
-
69


5.1.4        Keadaan Siswa dan Kelas
Kelas
L
P
JUMLAH
VII
183
117
400
VIII
152
165
317
IX
129
147
276
JUMLAH
464
529
993

5.1.5        Struktur KTSP SMP Negeri 13 Palembang
No
Mata Pelajaran
Standar
SMP N 13 Plg
Ket
1
Pendidikan Agama
2
2

2
Pendidikan Kewarganegaraan
2
2

3
Bahasa Indonesia
4
5
+ 1
4
Bahasa Inggris
4
4

5
Matematika
4
5
+ 1
6
IPA Terpadu
4
5
+ 1
7
IPS
4
5
+ 1
8
Pendidikan Seni Budaya
2
2

9
Penjaskes
2
2

10
TIK
2
2

11
Muatan Lokal
2
2

12
Pengembangan Diri
2
2

Jumlah
34
38
+ 4
5.1.6        Buku Perpustakaan
Jumlah Judul Buku        : 2096
Jumlah Fiksi                   : 601
Jumlah Non Fiksi           : 3948
Jumlah Buku Paket        : 4511
5.1.7        Potensi Lingkungan Sekolah Yang Diharapkan Mendukung Lingkungan Sekolah
a.    Kualifikasi tenaga pendidikan yang memadai
b.    Kedisiplinan tenaga pendidikan yang baik
c.    Adanya hubungan yang baik antara teman sejawat
d.   Keratifitas tenaga kependidikan yang tinggi
e.    Sarana dan prasarana yang cukup tersedia
f.       Transfortasi kendaraan dari sekolah lancar
g.    Adanya listrik, PLN, air bersih PDAM, dan telpon
h.    Dukungan dana yang cukup tinggi dari pemerintah, orang tua,  dan masyarakat
i.        Motivasi belajar siswa yang tinggi

5.2       Hasil Penelitian
5.2.1    Proses Penyuluhan
            a. Sebelum Penyuluhan
                      Sebelum kegiatan penyuluhan dilakukan meminta izin penelitian kepada pihak sekolah, setelah itu peneliti masuk ke kelas dan meminta izin kepada guru untuk memanggil beberapa siswa dengan dibantu guru BK. Setelah itu peneliti mengajak sisw ke ruang laboratorium untuk mengikuti kegiatan penyuluhan.
                             Pertama-tama peneliti melakukan informed concent kepada siswa. Setelah itu peneliti menjelaskan maksud dan tujuan kepada siswa peneliti langsung membagikan koesioner dan menjelaskan cara-cara pengisian kuisioner tersebut. Setelah siswa mengisi kuisoner (pre-test) peneliti melakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok.
b. Penyuluhan
          Kegiatan penyuluhan dilakukan selama 3 hari dimulai dari tanggal 30  April, 1 Mei dan 3 Mei diruangan laboratorium. Pada hari senin tanggal 30 April 2012, penyuluhan yang berlangsung selama 40 menit yang dimulai dari pukul 14.00 WIB sampai pukul 14.40 WIB didapat 18 responden, pada tanggal 1 Mei dilakukan penyuluhan pada jam 10.00 sampai 10.50 WIB di dapat 28 responden dan pada tanggal 3 mei dilakukan dengan waktu yang sama jam 10.00.11.00 WIB didapat 22 responden. Penelitian melakukan penyuluhan dengan mengunakan fasilitas leaflet, kotak rokok dan power point. Setelah koesioner dibagikan peneliti memulai dengan mengucapkan salam, lalu menjelaskan tujuan dari penyuluhan. Setelah pembukaan peneliti langsung meminta semua siswa yang mengikuti penyuluhan tersebut mengisi dulu kuisoner yang telah dibagikan, setelah seluruh siswa mengisi kuisoner peneliti mebagikan leflet dan langsung menjelaskan materi yang akan disampaikan tentang merokok serta bermacam dampak dari merokok. Setelah itu peneliti meminta beberapa siswa menjawab berapa pertanyaan yang telah disampaikan peneliti melalui materi dan memberikan cenderamata kepada beberapa siswa yang bisa menjawab pertanyaan dari peneliti sebagai evaluasi dari kegiatan penyuluhan tersebut setelah itu peneliti menutup acara penyuluhan tersebut.
c.  Setelah Penyuluhan
                      Setelah  dari penyuluhan peneliti mengelolah data yang telah didapat dari post-test dan pre-test yang telah dilakukan oleh responden sehingga akan didapatkan hasil apakah ada perbedaan pengetahuan dan sikap siswa sebelum penyuluhan  (pre-test) dan setelah dilakukan penyuluhan (post-test).

5.2.2   Pengetahuan Siswa Sebelum Dilakukan Penyuluhan Tentang Merokok Pada  Remaja  Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan variabel pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan dibagi menjadi tiga kategori yaitu baik, cukup dan kurang baik. Dapat dilihat dari tabel berikut ini :







Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan
Siswa Sebelum Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di
SMP Negeri 13 Palembang
No
Pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan
Frekuensi
Persentase
1
Baik
31
39,7
2
Cukup
42
53,8
3
Kurang Baik
5
6,4

Total
78
100
                       
Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 31 (39,7 %), siswa yang mempunyai pengetahuan yang cukup 42 (53,8 %) dan siswa yang mempunyai pengetahuan yang kurang 5 (6,4 %).

5.2.3.  Pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
                        Berdasarkan variabel pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan menjadi 3 kategori yaitu baik, cukup dan kurang baik. Dapat dilihat dari tabel berikut ini :            
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Siswa Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang

Pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan
Frekuensi
Persentase
1
Baik
61
78,2
2
Cukup
13
16,7
3
Kurang Baik
4
5,1

Total
78
100

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 61 (78,2 %), siswa yang mempunyai pengetahuan yang cukup 13 (16,7 %) dan siswa yang mempunyai pengetahuan yang kurang 4 (5,1 %).

5.2.4  Sikap Siswa Sebelum Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
     Berdasarkan variabel sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan menjadi dua kategori yaitu positif dan negatif. Dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap Siswa Sebelum Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang
No
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
Frekuensi
Persentase
1
Positif
44
56,4
2
Negatif
34
43,6

Total
78
100

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebanyak 44 (56,4 %), sedangkan siswa yang mempunyai sikap negatif sebanyak  34 (43,6 %).

5.2.5  Sikap Siswa Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
     Berdasarkan variabel sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan menjadi dua kategori yaitu positif dan negatif. Dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 5.4
No
Sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan
Frekuensi
Persentase
1
Positif
43
55,1
2
Negatif
35
44,9

Total
78
100
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap Siswa Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang

Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa sikap siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebanyak 43 (55,1 %), sedangkan siswa yang mempunyai sikap negatif sebanyak  35 (44,9 %).

5.2.6 Perbedaan Antara Pengetahuan Siswa Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Tentang Merokok Pada  Remaja  Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan variabel pengetahuan siswa sebelum dan sesudah  dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terhadap remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012. Dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 5.5
Perbedaan Antara Pengetahuan Siswa Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang
No
Perbedaan Pengetahuan siswa sebelum dan setelah penyuluhan
Mean
Standar deviasi
P value
1
Pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan
11.83
2.153



2
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
13.54
2.521
P :0,005
3
Selisih
1.71
0.368


                             Dari tabel di atas menunjukan bahwa rata-rata nilai pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan 11,83 dengan std Deviation 2,153 dan rata-rata nilai pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan 13,54 dengan std Devation 2,521 dan selisih nilai pengetahuan sebelum dan setelah penyuluhan mean 1,71 dan standar deviasi 0,368 dengan sig. (2 tailed) =0,005, ini menunjukan bahwa adanya perbedaan nilai pengetahuan siswa sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan (bermakna) dari 78 siswa.Penyuluhan kesehatan memberikan dampak perubahan pada peningkatan pengetahuan siswa tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang.

5.2.7 Perbedaan Antara Sikap Siswa Sebelum dan Setelah Dilakukan Penyuluhan Tentang Merokok Pada  Remaja  Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012.
Berdasarkan variabel sikap siswa sebelum dan sesudah  dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terhadap remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012. Dapat dilihat dari tabel berikut ini






Tabel 5.6
Perbedaan Antara Sikap Siswa Sebelum dan Sesudah Dilakukan Penyuluhan Kesehatan Tentang Merokok Pada Remaja Usia 12-15 Tahun di SMP Negeri 13 Palembang
No
Perbedaan sikap siswa sebelum dan setelah penyuluhan
Mean
Standar deviasi
P value
1
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
43.88
6.160



2
Sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan
45.72
5.711

3
Selisih
1.84
0.449

                       
Dari tabel di atas menunjukan bahwa rata-rata nilai sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan 43,88 dengan std Deviation 6,160 dan rata-rata nilai pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan 45,72 dengan std Devation 5,711 dan pengetahuan sebelum dan setelah penyuluhan selisih nilai mean 1,71 dan standar deviasi 0,368 dengan sig. (2 tailed) =0,005, ini menunjukan bahwa adanya perbedaan nilai sikap siswa sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan (bermakna) dari 78 siswa. Penyuluhan kesehatan memberikan dampak perubahan pada peningkatan sikap siswa tentang merokok pada remaja usia 12-15 tahun di SMP Negeri 13 Palembang Tahun 2012
BAB VI
PEMBAHASAN

6.1.      Pembahasan Hasil Penelitian
6.1.1    Pengetahuan Siswa
                        Hasil menunjukan bahwa pengetahuan siswa yang pernah merokok sebelum dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 31 (39,7 %), siswa yang mempunyai pengetahuan yang cukup 42 (53,8 %) dan siswa yang mempunyai pengetahuan kurang 5 (6,4 %).
Sedangkan pengetahuan siswa yang pernah merokok setelah  dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 61 (78,2 %), siswa yang mempunyai pengetahuan yang cukup 13 (16,7 %) dan siswa yang mempunyai pengetahuan kurang 4 (5,1 %).
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji paried t-tes di dapatkan bahwa rata-rata nilai pengetahuan siswa sebelum dilakukan penyuluhan 11,83 dengan std Deviation 2,153 dan rata-rata nilai pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan 13,54 dengan std Deviation 2,521 dan selisih nilai mean 1,71 dan standar deviasi 0,368 dengan sig. (2 tailed)= 0,005 ini menunjukan bahwa adanya perbedaan nilai pengetahuan siswa sebelum dan setelah dilakukan penyuluhan (bermakna) dari 78 siswa.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007), pengetahuan sangat penting dalam kehidupan, terutama pada masa remaja, tetapi perlu cara yang tepat dalam penyampaian, tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang specifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur bahwa seseorang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
Sesuai dengan teori Notoatmodjo yang mengatakan apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka perilaku tersebut akan bersifat lama, sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan bersifat lama.
Data tersebut dapat menggambarkan bahwa siswa kurang memahami pengetahuan tentang perilaku merokok. Hal ini membuktikan bahwa sumber informasi tentang perilaku merokok belum begitu sampai kepada remaja khususnya pelajar SMP. Dari hasil wawancara atau angket yang diberikan dengan siswa sangat kurangnya sumber informasi bagi siswa tentang bahaya merokok itu sendiri.
Menurut Ellizabet (2010) menyatakan bahwa faktor terbesar dari kebiasaan merokok adalah faktor sosial atau lingkungan, dan lingkungan di keluarga juga sangat mempengaruhi seseorang untuk berperilaku merokok.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007), yang menyatakan bahwa evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunkan kriteria yang ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui dapat kita lihat sesuai dengan tingkatan- tingkatan diatas.
Hasil penelitian ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhasanah (2010). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan siswa setelah  diberikannya penyuluhan terhadap siswa di SMP Budi Utama dalam judul Hubungan  antara pengetahuan, sikap dan peran guru terhadap prilaku merokok pada siswa  SMP budi utama.
Berdasarkan hasil penelitian terkait dan teori yang adamaka peneliti berpendapat bahwa ada pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok. Setelah dilakuan penyuluhan ada 35 siswa yang pengetahuanya meningkat, 5 siswa yang pengetahuan nya menurun daan 37 siswa tidak mengalami perubahan pengetahuan.Hal ini berkaitan dengan teori Notoatmodjo (2007), yang menyatakan pengetahuan sangat penting dalam kehidupan terutama pada remaja, tetapi perlu cara yang tepat dalam penyampaiannya materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang specifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima.
Pada saat penyuluhan, peneliti menjelaskan tentang rokok dan dampak pada bagian tubuh yang disebabkan oleh rokok melalui gambar power point. Pada saat mereka menjawab pertanyaan (pre-test) dampak-dampak apa saja yang ditimbulkan oleh rokok banyak anak yang menjawab salah, mereka menjawab hal-hal kecil yang umum di iklan atau dibaca di kemasan rokok. Setelah dilakukan penyulan kesehatn tentang merokok siswa bisa menjawab dengan tepat kalau dampak-dampak rokok bisa membahayakan tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa metode mengunakan power point melalui gambar tentang rokok ataupun dampak-dampak dari merokok adalah metode yang tepat untuk melakukan penyuluhan pada siswa SMP.

6.1.2 Sikap Siswa
                               Hasil menujukan bahwa sikap siswa sebelum dilakuan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebnyak 44 (56,4 %) sedangkan siswa yang mempunyai sikap yang negatif sebanyak 34 (43,6).
                        Sedangkan pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang merokok terlihat bahwa siswa yang mempunyai sikap positif sebanyak 43 (55,1 %) sedangkan siswa yang mempunyai sikap negatif sebanyak 35 (44,9 %).
                        Berdasarkan hasil penelitian dengan mengunakan uji paried t-tes didapatkan bahwa rata-rata nilai sikap siswa sebelum dilakukan penyuluhan 43,88 dengan std Deviation 6,160 dan rata-rata nilai pengetahuan siswa setelah dilakukan penyuluhan 45,72 dengan std Deviation 5,711 dan selisih nilai mean 1,71 dan standar deviasi 0,368 dengan sig. (2 tailed) =0,005, ini menunjukan bahwa adanya perbedaan nilai sikap siswa sebelum dan setelahdilakukan penyuluhan (bermakna) dari 78 siswa.
                        Sikap adalah penilaian (bisa berupa pendapat) seseorang terhadap stimulus atau objek (dalam hal ini adalah masalah kesehatan, termasuk penyakit). Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya akan menilai atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan tersebut (Notoatmojo, 2002).
                        Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Allport (1954) yang menyatakan tiga komponen pokok sikap, yaitu Kepercayaan (keyakinan), ide dan ide dalam suatu objek; Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek; Kecendrungan untuk bertindak ( Tend to behave). Ketiga koponen ini secara bersama-saa membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran keyakinan dan emosi memegang peranan penting.
                        Hasil penelitian ini sesuai dengan teori menurut Purwanto (2002) sikap dapat dibentuk atau dirubah melalui 2 cara yaitu adopsi dan intelgensi, dimana adposi merupakan kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang dan terus menerus, lama kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri individu dan mempengaruhi terbentuknya suatu sikap dan intelegensi merupakan pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tertentu.
            Penelitian ini sependapat dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhasanah (2010). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan terhadap sikap siswa setelah  diberikannya penyuluhan terhadap siswa di SMP Budi Utama dalam judul Hubungan  antara pengetahuan, sikap dan peran guru terhadap prilaku merokok pada siswa  SMP budi utama.
Berdasarkan hasil penelitian terkait dan teori yang ada maka peneliti berpendapat bahwa ada pengaruh penyuluhan kesehatan tentang merokok terhadap sikap siswa. Setelah dilakukan penyuluhan ada 55 siswa yang sikapnya mengalami perubahan kearah positif, 9 siswa sikapnya menurun kearah negatif  dan 14 orang tidak mengalami perubahan. Hal ini berkaitan dengan teori Allport (1954) yang menyatakan penentuan sikap yang utuh juga didasari oleh pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.
6.2       Keterbatasan Penelitian
            Adapun keterbatasan penelitian ini adalah :
a.       Ada banyak variabel yang seharusnya dapat diteliti akan tetapi karna keterbatasan waktu dan biaya dari peneliti, maka peneliti hanya meneliti variabel pengetahuan dan sikap.
b.      Evaluasi penelitian ini dilakukan tidak sesuai dengan teori penyuluhan, hal ini dikarenakan keterbatasan waktu penelitian.














BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

7.1         Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh 78 responden   pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

7.1.1   Pengetahuan dan Sikap Siswa Sebelum Penyuluhan (pre-test)  
           Siswa yang mempunyai penegtahuan baik 31, cukup 42 dan kurang 5 siswa dan siswa yang mempunyai sikap positif 44 dan sikap negatif 34 siswa.

7.1.2    Pengetahuan dan Sikap Siswa Sesudah Penyuluhan ( post-test )  
           Siswa yang mempunyai pengetahuan baik 61, cukup 13 dan kurang 4 siswa dan siswa yang mempunyai sikap positif 43  dan sikap negatif 35 siswa.

7.1.3.   Perbedaan Pengetahuan dan Sikap siswa Setelah dan Sebelum Penyuluhan.
                        a. Ada perbedaan antara pengetahuan siswa di SMP Negeri 13 Palembang sebelum dan setelah diberi penyuluhan kesehatan dengan (p value 0,005).
            b. Ada perbedaan antara sikap siswa di SMP Negeri 13 Palembang sebelum dan setelah diberi penyuluhan kesehatan dengan (p value 0,005).

7.2        Saran
7.2.1    Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan ada program penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa dengan jalan bekerjasama dengan puskesmas dalam rangka menyikapi permasalahan merokok, seperti melalui program penyuluhan pendidikan tentang kesehatan dengan bekerjasama dengan instansi-instansi terkait ataupun LSM yang membidangi masalah merokok pada remaja melalui poster-poster, leaflet tentang bahaya merokok dan melalui program lainnya seperti mengadakan ceramah agama sehingga siswa mendapatkan pendidikan agama. Hal ini bertujuan agar siswa dapat memahami dan menyadari untuk tidak melakukan perilaku merokok.

7.2.2    Bagi SMP Negeri 13 Palembang
 Diharapkan pihak sekolah dapat memberikan peraturan kepada siswa untuk dilarang keluar dari lingkungan sekolah pada saat istirahat maupun pada saat  proses belajar mengajar, hal ini dapat bertujuan mengurangi perilaku siswa merokok di lingkungan sekolah dan diharapkan pihak institusi pendidikan dapat melakukan kerja sama dengan pihak institusi kesehatan khususnya pihak puskesmas dalam meningkatkan program pendidikan kesehatan  khususnya pendidikan kesehatan tentang merokok. Serta diharapkan siswa dapat mengerti dan memahami tentang bahaya merokok serta mengurangi tingkat merokok di kalangan siswa sekolah.
7.2.4    Rekomendasi Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk peneliti selanjutnya dengan tema yang sama yaitu penyuluhan kesehatan tentang merokok, tetapi bahasan yang berbeda. Misalnya membahas mengenai peranan guru terhadap prilaku siswa yang merokok.















Komentar